Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Indonesia sering disebut bangsa yang genius dalam satu hal: seni melupakan. Kata “perjuangan” kita anggap hanya bab membosankan dalam buku sejarah. Kita berdiri di panggung dunia, menyanyikan lagu kebangsaan yang syairnya sering kali tak benar-benar kita pahami.
Padahal, W.R. Soepratman telah memberikan lebih dari sekadar lagu. Ia menuliskan protokol menjadi bangsa besar: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.” Sebuah urutan yang tidak boleh tertukar.
Namun, yang terjadi? Kita memilih jalan sebaliknya. Kita sibuk membangun “badan” bangsa: infrastruktur megah, proyek-proyek prestisius, kekayaan yang bertumpuk. Tapi jiwa bangsa—mental, karakter, moralitas—dibiarkan keropos, lapar, dan terpinggirkan.
Kita mabuk, bukan oleh anggur, tapi oleh pesta pora kekuasaan. Kita teriak “Merdeka!” namun masih terikat oleh perbudakan baru: nafsu, kuasa, dan korupsi.
Kekayaan yang Terabaikan
Laut kita, zamrud khatulistiwa dengan kekayaan melimpah, justru lebih dikenal lewat kasus pencurian ikan dan reklamasi yang merusak.
Daratan kita, tanah subur penuh potensi, lebih sering dieksploitasi tambang dan sawit, sementara masyarakat sekitar tetap miskin dan bertanya: “Kemana semua kekayaan itu?”
Kita bangga menyebut Malaysia, Thailand, atau Vietnam lebih kecil sumber dayanya. Namun kebanggaan itu terdengar seperti pelipur lara seorang kaya yang lupa di mana menyimpan kunci kamarnya.
Lalu Apa yang Salah?
Mari jujur: pendidikan kita sering hanya sebatas hafalan, bukan penghidupan nilai. Pancasila lebih diperlakukan sebagai mantra upacara, bukan kompas kebangsaan. Ceramah agama pun kadang berubah menjadi penenang yang nyaman, alih-alih suara lantang melawan ketidakadilan.
Akibatnya, jiwa bangsa ini semakin terlupakan. Kita sibuk menghias badan dengan proyek-proyek fantastis, padahal jiwa sedang sakit dan sekarat.
MQG Training: Revolusi Jiwa untuk Indonesia
Solusi bukan revolusi berdarah, melainkan revolusi jiwa. MQG Training hadir sebagai ikhtiar membangun kembali fondasi mental bangsa.
1. M – Mindset Restoration (Pemulihan Pola Pikir)
Modul: “Dari Pribadi ke Publik” – mengubah orientasi dari “Apa yang negeri berikan untuk saya?” menjadi “Apa yang bisa saya berikan untuk negeri?”
Praktik: Hidup sederhana dengan standar gaji buruh selama seminggu. Memahami makna Pasal 33 UUD 1945: bumi, air, dan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat.
2. Q – Quality Consciousness (Kesadaran akan Kualitas)
Modul: “Bangga karena Kualitas, bukan Kekayaan” – berhenti berbangga pada kekayaan alam, mulai membanggakan SDM unggul, inovasi, dan pelayanan publik.
Praktik: Membandingkan kualitas layanan dan infrastruktur kita dengan negara tetangga. Bukan untuk minder, tapi melahirkan rasa malu produktif yang memacu perbaikan.
3. G – Growth & Giving (Tumbuh dan Berbagi)
Modul: “Ekonomi Berkeadilan, bukan Rakus” – pertumbuhan harus menetes ke bawah, bukan hanya dinikmati segelintir elite.
Praktik: “Satu Pejabat, Satu Desa Binaan” – bukan sekadar pencitraan, melainkan pemberdayaan nyata. Pastikan anak-anak di pelosok mendapat pendidikan, gizi, dan harapan.
Penutup
Indonesia tidak kekurangan ekonom, insinyur, atau politikus. Yang kurang adalah manusia berjiwa besar.
W.R. Soepratman sudah memberi partiturnya. Kita punya instrumen, tapi enggan berlatih. Kita lebih sibuk mencari tepuk tangan sesaat, alih-alih memainkan simfoni kebangsaan.
MQG Training bukan program ajaib. Ia adalah panggilan kembali ke fitrah: membangun jiwa yang merdeka, jujur, dan peduli. Bila jiwa telah kokoh, badan bangsa akan kuat, adil, dan makmur.
Sudah waktunya sadar dari mabuk. Bangunlah jiwanya. Bangunlah jiwanya. Bangunlah jiwanya. Maka, badannya akan mengikuti.
Penulis: Saeed Kamyabi
Founder MQG Training
Info Pelatihan: 0813 8581 7649








