Oleh Saeed Kamyabi
ZIW.com, Jakarta – Polemik tentang “tender doa” Ustadz Yusuf Mansur (UYM) kembali menjadi sorotan publik. Konsep yang disebut-sebut sebagai “doa berbayar” ini memicu perdebatan sengit di media sosial. Banyak yang menilai UYM telah mengkomersialkan agama, namun di balik kontroversi tersebut tersimpan pesan spiritual dan kritik sosial yang lebih dalam. (14/10/2025)
Makna di Balik “Tender Doa”
Dalam sejumlah ceramahnya, UYM menggunakan analogi dunia bisnis:
“Siapa yang membayar lebih tinggi, dialah yang memenangkan tender.”
Pernyataan ini bukan bermaksud menyamakan Tuhan dengan panitia proyek, melainkan metafora spiritual tentang tingkat pengorbanan dan kesungguhan dalam berdoa.
Menurut UYM, semakin besar pengorbanan harta, waktu, atau tenaga, maka semakin besar pula kesungguhan seseorang dalam beribadah. Dalam Islam, hal ini sejalan dengan hukum sebab-akibat (kausalitas) dan konsep juhd (kesungguhan).
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah:245:
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasannya…”
Dengan demikian, “tarif tinggi” yang dimaksud Ustadz Yusuf Mansur bukanlah harga doa, tetapi simbol pengorbanan yang mencerminkan kesungguhan spiritual seseorang dalam menjemput takdir baik dari Allah.
Candaan yang Disalahpahami
Dalam klarifikasinya, UYM menegaskan bahwa istilah “tender doa” tidak pernah dimaksudkan secara literal.
“Itu mah candaan Betawi. Saya bilang, siniin martabak lah, rokok… tar gue doain luh. Ya masa iya, beneran minta martabak,” ujar UYM dalam percakapan pribadinya dengan penulis.
Pernyataan ini menunjukkan adanya unsur candaan dan sindiran sosial, bukan ajakan untuk membayar doa. Melalui gaya komunikasinya yang lugas dan provokatif, UYM sebenarnya menyentil fenomena komersialisasi dakwah yang sudah lama terjadi di balik layar.
Tarif Ceramah dan Realita Komersialisasi Dakwah
Di kalangan publik, praktik “honorarium dakwah” memang sudah lama menjadi rahasia umum. Berdasarkan data yang beredar di industri event organizer:
Ustadz level superstar: Rp75 juta – Rp200 juta per sesi
Ustadz top: Rp25 juta – Rp75 juta per sesi
Ustadz menengah: Rp5 juta – Rp25 juta per sesi
Ustadz lokal/pemula: Rp500 ribu – Rp5 juta per sesi
Beberapa bahkan menambahkan fasilitas transportasi bisnis, akomodasi hotel bintang lima, hingga mobil penjemputan eksklusif.
Melalui keterbukaannya, UYM justru membongkar hipokrisi yang sering disembunyikan. Ia menantang umat untuk lebih jujur dan sadar, bahwa nilai spiritual tidak bisa diukur hanya dengan angka, tetapi melalui keikhlasan dan niat tulus beribadah.
Pelajaran untuk Umat: Antara Keikhlasan dan Kesadaran
Kontroversi ini sejatinya menjadi cermin bagi umat Islam. UYM menyoroti dua realita penting:
Realita pahit: praktik komersialisasi dakwah memang nyata terjadi.
Pesan spiritual: kekuatan doa berbanding lurus dengan kekuatan pengorbanan.
Pesan yang ingin disampaikan bukanlah ajakan untuk membayar doa, melainkan ajakan untuk lebih serius dalam beramal dan bersedekah sebagai bentuk “perdagangan spiritual” dengan Allah.
“Kalau kita rela membayar puluhan juta untuk mendengar ceramah manusia, seharusnya kita lebih rela lagi ‘membayar’ kepada Allah dengan sedekah besar agar doa dikabulkan,” demikian pesan UYM dalam banyak ceramahnya.
Refleksi Akhir
Fenomena “Tender Doa” seharusnya tidak dilihat sebagai sensasi, melainkan undangan untuk berpikir kritis dan mendalam.
Apakah kita selama ini terlalu fokus pada “pembawa pesan” hingga lupa kepada “Sang Pemberi Pesan”?
Apakah kita lebih rela membayar untuk hiburan rohani ketimbang bersedekah untuk membersihkan hati dan harta?
Ustadz Yusuf Mansur mungkin hanya sedang menyodorkan cermin besar bagi umat — agar kita bercermin pada diri sendiri dan menata ulang makna ibadah, keikhlasan, serta hubungan spiritual dengan Allah.
Penulis: Saeed Kamyabi








