Zonaindonesiaworld.com, Tangerang – Di tengah semakin parahnya krisis lingkungan global, konsep Ekonomi Hijau dan Ekonomi Biru kian digembar-gemborkan sebagai solusi masa depan. Para pakar dan pemangku kebijakan ramai-ramai mempromosikan sistem ini sebagai jalan menuju keberlanjutan. Namun, apakah konsep tersebut benar-benar solusi, atau justru sekadar pencitraan hijau yang menyesatkan?
Antara Teori dan Kenyataan: Bumi Kian Sesak Napas
Di saat bumi semakin sesak napas, laut penuh sampah, dan iklim tak menentu, para “pemikir modern” menawarkan konsep yang mereka sebut inovatif: Green Economy dan Blue Economy. Mereka berbicara tentang pelestarian laut dan penghijauan bumi seolah semuanya bisa diatasi dengan teknologi dan dana investasi. (30/10/2025)
Namun, muncul pertanyaan besar: dari mana sebenarnya ide “brilian” ini berasal? Apakah manusia benar-benar bisa memperbaiki sistem alam tanpa melibatkan Sang Pencipta?
Ketika Alam Dianggap Aplikasi yang Bisa Diatur
Dalam pandangan Saeed Kamyabi, Inisiator Sistem Ekonomi Langit, banyak pihak kini terlalu sibuk menciptakan konsep tanpa memahami esensi spiritual alam semesta.
“Mereka seolah menganggap alam ini seperti aplikasi yang bisa di-update sesuka hati. Padahal, Nabi Ibrahim tidak selamat dari api karena alat pemadam. Nabi Musa tidak membelah laut dengan proyek reklamasi,” ujarnya.
Kamyabi menegaskan, solusi sejati bukan terletak pada teori manusia, melainkan pada ketaatan kepada aturan Ilahi. Menurutnya, manusia terlalu sibuk membangun sistem ekonomi duniawi, namun lupa bahwa seluruh aturan terbaik sudah ditetapkan dalam Al-Qur’an.
Zakat vs Green Bond: Solusi yang Sudah Ada
Saeed Kamyabi menilai, banyak konsep ekonomi modern justru mengabaikan nilai-nilai spiritual dan sosial yang sudah terbukti efektif selama ribuan tahun.
“Ngapain riset puluhan tahun untuk mengatasi kemiskinan, kalau zakat sudah jadi sistem pembagi rezeki yang adil? Ngapain terapi stres mahal, kalau sholat dan silaturahmi sudah jadi obat hati?” tegasnya.
Ia menyebutkan fenomena konferensi dan seminar lingkungan yang justru sering berlangsung di hotel mewah sambil menikmati hidangan laut — ironi dari wacana “penyelamatan ekosistem laut”.
Sistem Ekonomi Langit: Jalan Menuju Keberlanjutan Sejati
Menurut Kamyabi, Sistem Ekonomi Langit hadir bukan sebagai penolakan terhadap teknologi, melainkan sebagai pengingat bahwa semua ilmu harus berpijak pada keimanan. Sistem ini menekankan keseimbangan antara spiritualitas, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan — bukan sekadar jargon politik atau proyek ekonomi global.
“Pada akhirnya, saat semua teori manusia gagal dan bumi semakin rusak, hanya Rabbul ‘Alamin yang mampu menyelamatkan kita. Bukan ekonomi hijau, bukan ekonomi biru,” pungkasnya.
Penulis: Saeed Kamyabi








