ZonaIndonesiaWorld.com-Jakarta-Apa Yang Sebenarnya Terjadi Di Kelas?
Setiap kali bertatap muka dengan mahasiswa, saya selalu bertanya kepada mereka di awal, apa pikiran yang kalian bawa hari ini?
Jika tidak ada pikiran yang kalian bawa, maka saya katakan kepada mereka untuk duduk diam, dengarkan pikiran yang dibawa oleh teman-teman kalian hari ini, dan isi pikiran kalian yang kosong dengan pikiran-pikiran yang akan berseliweran dalam diskusi kelas hari ini.
Ya, menjadi dosen artinya mampu menghubungkan pemikiran mahasiswa dengan apa yang sedang terjadi di sekitarnya saat ini, dengan segala macam teori yang ada.
Artinya mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam proses.
Karena kuliah pada sejatinya, bukanlah proses mendengarkan dosen ‘ngoceh’ di kelas, tetapi kuliah sejatinya adalah proses mendengarkan isi pemikiran mahasiswa, manusia yang notabene beranjak dewasa dalam hal pemikiran dan sikap.
*Pembuktian Diri Sebagai Dosen Sejatinya Bukan Kepada Sistem Atau Atasan
Kemudian, muncullah berbagai macam pertanyaan dalam benak saya tentang bagaimana sebenarnya proses pembelajaran di kampus yamg ideal….
Bagaimana sebenarnya proses sebuah penelitian dijalankan?
Apakah pengabdian kita sebagai dosen selama ini benar-benar telah menyentuh persoalan di masyarakat, atau masih hanya sekadar formalitas sebagai pelengkap isian beban kerja?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak membutuhkan laporan panjang, cukup dilihat dari cara kerja saja.
Ada pendekatan yang mulai berkembang di beberapa tempat, yaitu mengembalikan kegiatan akademik ke situasi nyata.
Sejatuinya, dosen tidak hanya menjelaskan, tetapi juga bekerja bersama. Kegiatan tidak berhenti sebagai agenda, tetapi didokumentasikan dan diolah menjadi pengetahuan.
Pendekatan seperti ini menuntut konsistensi, tidak bisa dijalankan setengah-setengah, namun kelebihannya jelas, karena kualitas kerjanya akan terlihat secara langsung.
Tidak ada ruang untuk berpura-pura.
Di situ, posisi struktural atau jabatan yang dipegang di kampus, tidak akan banyak membantu, karena yang menentukan keberhasilannya adalah kemampuan genuitas sang dosen itu sendiri.
Sejatinya pula, menjadi seorang dosen seharusnya tidak dipahami sebagai status yang sekali didapat, lalu selesai.
Dosen adalah posisi yang harus terus dibuktikan. Bukan kepada sistem, bukan kepada atasan atau jabatan, melainkan kepada ilmu itu sendiri.
Setiap perkuliahan adalah kesempatan untuk memastikan bahwa yang disampaikannya kepada mahasiswanya masih relevan, dan dapat merangsang daya berpikir mahasiswanya, sebagai insan solutif yang berdasarkan ilmu pengetahuan.
Setiap penelitian bukanlah upaya untuk mengulang apa yang sudah diketahui, atau memperbanyak rujukan untuk disitasi.
Sebuah penelitian yang bermakna, menurut saya, adalah penelitian yang menghasilkan dampak yang membumi, bukan dampak yang ‘melayang’ apalagi terlalu tinggi, sehingga tidak bisa dicapai bahkan oleh si peneliti itu sendiri.
Dan setiap interaksi dengan mahasiswa adalah ruang untuk menjaga agar pengetahuan tidak berhenti pada teori.
Dan pastinya, tidak ada cara cepat untuk itu.
Kampus Tidak Akan Berubah Hanya Karena Kebijakan Baru.
Kampus akan berubah ketika cara kerja di dalamnya berubah, yaitu ketika lebih banyak dosen memilih membaca daripada sekadar merujuk atau mengatasi penelitian orang lain, memahami sebelum menyimpulkan, dan mengajar dengan tujuan, bukan sekadar menyelesaikan jadwal.
Kampus tidak akan mendapatkan hasil yang baru, jika selalu menggunakan cxara yang lama.
Pilihan-pilihan ini tidak selalu memberi keuntungan langsung. Namun dalam jangka panjang, ini akan menentukan arah.
Jika masih ada yang bertahan dengan cara kerja seperti ini, masih ada kemungkinan untuk memperbaiki keadaan.
Jika tidak, kampus akan tetap berjalan, tetapi kehilangan fungsinya yang paling dasar, yaitu sebagai sumber Cahaya ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia itu sendiri.
Dan pada titik itu, kita tidak lagi bicara tentang standar mutu atau akreditasi negara.
Kita bicara tentang hilangnya kepercayaan terhadap ilmu itu sendiri.
Penutup
Dan hal lain yang perlu dibicarakan secara terbuka adalah rasa malu. Bukan dalam arti negatif, melainkan sebagai pengingat batas.
Malu ketika berbicara tanpa dasar.
Malu ketika miskin refrensi, lalu mensitasi secara membabi buta.
Malu ketika mengambil peran yang tidak mampu dijalankan.
Malu ketika lebih sibuk mengatur citra daripada memperbaiki isi.
Semua rasa malu ini penting, karena tanpa itu, semuanya hanya akan menjadi pembenaran subjektif, bukan kebenaran yang objektif.
Wallahu’allam bisshowab
Jakarta, 8 Juni 2026
*Pensyarah Prodi PAI UNIDA Bogor/ Anggota PJMI/ Pemerhati Pendidikan dan Sosial/ Director of Logos Institute for Education and Sociology Studies (LIESS)
