Oleh: Saeed Kamyabi, Inisiator Sistem Ekonomi Langit
Zonaindonesiaworld.com, Jakarta –
Apakah Perang Bisa Diterima Sebagai Sistem Ekonomi?
Pertanyaan ini terdengar brutal, namun sangat nyata. Di balik setiap bom yang meledak, ada pabrik yang hidup. Di balik setiap perang, ada negara yang ekonominya melonjak—entah karena menjual senjata, minyak, atau menguasai pasar baru. Tapi benarkah semua sistem ekonomi bisa menerima perang sebagai solusi ekonomi?
Mari kita bedah tiga pendekatan besar: Kapitalisme, Sosialisme, dan Sistem Ekonomi Langit.
Kapitalisme: Perang adalah Mesin Uang
Dalam sistem kapitalis, perang bisa dan sering dijadikan ladang bisnis yang sangat menguntungkan. Perusahaan-perusahaan senjata, logistik, dan kontraktor sipil mendapatkan keuntungan luar biasa saat konflik terjadi. Negara-negara besar berlomba-lomba memperkuat anggaran militernya bukan hanya demi keamanan, tapi karena dampak ekonominya yang besar.
Contoh nyata: Perang Rusia-Ukraina.
Perang ini telah membuat industri senjata di AS dan Eropa menikmati lonjakan pesanan. Harga energi naik, terutama gas dan minyak, membuat negara-negara penghasil seperti Norwegia, Qatar, dan bahkan Amerika Serikat menuai keuntungan. Sementara Ukraina sendiri hancur, ekonomi global di sektor-sektor tertentu justru tumbuh dari reruntuhannya.
Bagi kapitalisme, perang adalah peluang ekonomi. Selama ada permintaan (senjata, pengamanan, logistik, rekonstruksi), selalu ada pihak yang akan memasok. Laba tetap menjadi orientasi utama, bahkan jika harus mengorbankan nyawa manusia.
Sosialisme: Perang Diperbolehkan Dalam Nama Revolusi atau Pertahanan
Dalam teori sosialisme klasik, perang dipandang sebagai produk dari kapitalisme itu sendiri—sebuah akibat dari ekspansi dan eksploitasi. Namun sejarah menunjukkan bahwa negara-negara sosialis juga tidak luput dari perang. Mereka melancarkan perang demi “membela rakyat”, mempertahankan ideologi, atau melawan kekuatan imperialisme.
Contoh nyata: Konflik Iran dan Israel.
Iran, sebagai negara yang mengusung model ekonomi lebih kolektif dan berbasis negara, menganggap perlawanan terhadap Israel sebagai bentuk pembelaan terhadap rakyat Palestina. Bagi mereka, ini adalah “perang ideologi” melawan hegemoni Barat. Israel di sisi lain, meskipun kapitalis, mengembangkan ekonomi perang dengan militerisasi teknologi, keamanan, dan sistem pertahanan yang kini menjadi komoditas ekspor.
Kedua pihak menggunakan perang sebagai alat pembenaran ideologis, namun tetap berdampak pada perputaran ekonomi dalam negeri mereka. Perusahaan teknologi militer Israel tumbuh pesat. Iran mengandalkan propaganda perjuangan untuk memobilisasi rakyat sekaligus menjaga stabilitas kekuasaan.
Ekonomi Langit: Menolak Perang Sebagai Jalan Ekonomi
Sistem Ekonomi Langit dibangun atas fondasi bahwa tidak ada pertumbuhan yang sah jika dibangun di atas darah manusia. Sistem ini memandang perang bukan hanya sebagai tragedi, tetapi sebagai kegagalan total dalam mengelola sumber daya, komunikasi, dan empati kemanusiaan.
Dalam Sistem Ekonomi Langit:
* Perdagangan tidak boleh didorong oleh ketakutan.
* Pertumbuhan tidak boleh berasal dari penderitaan.
* Solusi konflik adalah kerja sama spiritual, diplomasi langit, dan keseimbangan nilai kemanusiaan.
Dalam konteks Rusia-Ukraina atau Iran-Israel, sistem ekonomi langit akan mendorong:
* Forum dialog berbasis keadilan spiritual, bukan kepentingan geopolitik.
* Transisi industri dari militer ke sosial: dari bom ke buku, dari rudal ke riset kesehatan.
* Menghapus laba dari industri perang dan mengalihkannya ke industri perdamaian: pendidikan, pangan, energi bersih.
Jalan Keluar: Kemanusiaan Harus Menolak Untung dari Derita
Dunia tidak kekurangan senjata, tetapi kekurangan kasih sayang. Dunia tidak kekurangan uang, tapi kekurangan empati. Dunia tidak kekurangan ilmu, tapi kekurangan pemakmur masjid.
Selama masih ada sistem ekonomi yang memperbolehkan keuntungan dari perang, maka akan selalu ada negara yang sengaja memeliharanya. Baik kapitalisme yang mencari laba, maupun sosialisme yang mencari kejayaan ideologi, akan terus bersentuhan dengan konflik. Tapi sistem langit datang untuk menghentikan lingkaran setan ini.
Masa Depan Harus Dimenangkan Dengan Damai
Dunia tidak perlu lagi pemenang yang memegang senjata, tapi pemimpin yang memegang hati. Tidak ada ekonomi yang benar-benar maju jika dibangun di atas reruntuhan rumah sakit, sekolah, dan jiwa manusia.
Sistem Ekonomi Langit mengajak dunia untuk tidak lagi menjadikan perang sebagai solusi, tapi menjadikan perdamaian sebagai jalan hidup.
Inilah ekonomi yang tidak hanya memberi makan tubuh, tapi juga menyembuhkan jiwa.
Penulis: Saeed Kamyabi
Pulau Tidung, 25 Juni 2025








