Australia Pandai Mengolah Darat, Indonesia Harus Pandai Mengolah Laut, Menyongsong Acara FNN (Forum Nelayan Nasional) HMNI

Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Tahun lalu, penulis sempat berkunjung ke Perth Australia Barat. Terasa betul bahwa Australia itu adalah negara dengan daratan yang sangat luas, tapi mereka tidak berhenti hanya berbangga dengan tanahnya. Pemerintah melihat potensi besar itu lalu menggelontorkan lebih dari 60 miliar dolar Australia selama empat tahun untuk infrastruktur darat. (27/082025)

Bayangkan, lebih dari 39 miliar dolar dialokasikan hanya untuk membangun jalan raya, dan 13 miliar dolar untuk rel kereta. Semua itu dikerjakan serius, sehingga jalur perdagangan darat mereka sangat efisien, biaya logistik rendah, harga barang terkendali, dan rakyat hidup sejahtera.

Sekarang bandingkan dengan Indonesia. Negeri kita dianugerahi laut yang jauh lebih luas daripada daratan—sekitar 70 persen wilayah Nusantara adalah lautan. Laut kita adalah jalur emas perdagangan dunia, rumah bagi kekayaan ikan, sumber energi, dan penghubung ratusan juta rakyat dari Sabang sampai Merauke. Namun apa yang terjadi? Anggaran pembangunan masih condong ke darat. Jalan dan jembatan diberi lebih dari 1.200 triliun rupiah, sementara infrastruktur laut hanya kebagian sekitar 500 triliun rupiah.

Akibatnya terasa langsung di kehidupan nelayan. Harga solar sulit turun, pelabuhan kecil rusak dan dangkal, kapal nelayan tradisional kalah bersaing dengan kapal besar, hasil tangkapan tidak bisa terserap karena kurangnya cold storage dan pasar ikan modern. Ironisnya, laut yang seharusnya jadi sumber kesejahteraan justru membuat banyak nelayan hidup pas-pasan.

Di sinilah HMNI Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia, harus bangkit. Kita tidak bisa diam. Kita harus bersatu mendorong pemerintah agar mengalokasikan minimal 30 persen anggaran infrastruktur nasional khusus untuk pembangunan maritim dan nelayan.

Kita perlu pelabuhan perikanan yang modern, cold storage di setiap titik strategis, pasar ikan terpadu, dermaga layak di pulau-pulau kecil, perbaikan kapal nelayan, serta subsidi solar yang berkeadilan.

Bayangkan, jika ini diwujudkan: hasil tangkapan nelayan bisa disimpan lebih lama, dijual dengan harga lebih tinggi, dan disalurkan ke seluruh Indonesia dengan ongkos logistik murah. Harga ikan turun di pasar rakyat, nelayan untung, konsumen senang, dan ekonomi nasional tumbuh. Laut yang luas bukan lagi simbol, tapi benar-benar menjadi mesin kesejahteraan bangsa.

Oleh karena itu, kepada seluruh anggota HMNI, mari bangkit dan bergerak! Jangan lagi hanya menjadi penonton ketika anggaran negara habis untuk daratan. Saatnya kita bersuara lantang: laut lebih kaya daripada daratan, laut adalah masa depan Indonesia.

Maka, dalam rangka menyongsong acara FNN Forum Nelayan Nasional HMNI, pada 25 September 2025, di Ballroom GMN 3 KKP, Jakarta, mari kita bersuara, mari kita berteriak, mari tunjukkan fakta nyata kekayaan laut kita yang mungkin tidak pernah dilirik oleh perencana anggaran negara.

Kita harus turun ke lapangan, melakukan konsolidasi, menyuarakan aspirasi secara resmi ke DPR, mendatangi kementerian terkait, dan membangun gerakan pesisir yang besar. Jika petani berjuang untuk tanahnya, maka nelayan harus berjuang untuk lautnya. Karena tanpa perjuangan, pemerintah akan terus abai, cuek, dan nasib nelayan tidak akan berubah.

Indonesia tidak boleh salah strategi lagi. Jika Australia bisa sejahtera dengan daratan, maka Indonesia harusnya bisa lebih sejahtera dengan lautan.

Mari jadikan lautan sebagai halaman depan bangsa ini. Mari jadikan laut sebagai sumber kekuatan, kebanggaan, dan kesejahteraan sejati untuk seluruh rakyat Indonesia. Wallahu a’lam.

Penulis: Saeed Kamyabi (Abdul Halim Said)
DPKP2K (Departemen Pembinaan Kemaritiman dan Pulau-pulau Kecil)
HMNI

  • Related Posts

    Analisis Kebijakan Bebas Visa Umrah Indonesia–Arab Saudi dalam Perspektif Visi Saudi 2030

    Pandangan Dr. Zainuddin Hasan Oleh: Saeed Kamyabi Bismillahirrahmanirrahim Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan secara konsisten menjadi penyumbang jamaah haji dan umrah terbesar…

    Analisis Ekonomi Langit untuk Perbaikan Sistem Ekonomi Indonesia Pasca Bencana Alam

    Konsep Ekonomi Langit Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Ekonomi Langit adalah konsep yang mengintegrasikan nilai-nilai ketuhanan, keberlanjutan, dan keadilan dalam sistem ekonomi. Konsep ini menekankan bahwa sumber daya alam adalah amanah dari…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *