Zonaindonesiaworld.com, Lampung – Revolusi Mental di era Jokowi digaungkan dengan gegap gempita. Slogan perubahan karakter bangsa berkumandang. Namun, mata kita perih menyaksikan parade korupsi yang tak kunjung usai: dari kasus Jiwasraya yang merugikan triliunan, korupsi dana Covid-19 di Kementerian Sosial, hingga mega-skandal di tubuh KPK sendiri. Di tengah janji pembenahan, justru pejabat yang seharusnya menjaga amanah malah menjadi perampok uang rakyat. (24/12/2025)
Kini, di era Prabowo, hadir program retreat dengan anggaran yang besar. Namun, ironi kembali terjadi: Operasi Tangkap Tangan (OTT) masih menjadi berita rutin. Uang rakyat dihabiskan untuk pembinaan, tetapi hasilnya seperti mengepel lantai yang keran airnya masih terbuka. Artinya apa? Artinya, pendekatan sekadar formalitas, seremonial, dan pemikiran manusiawi belaka telah gagal menyentuh relung hati nurani.
Firman Allah mengingatkan: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS Thaha: 124). Inilah jawaban langit: ketika hati dijauhkan dari dzikrullah, hidup menjadi sempit, hanya dipenuhi oleh nafsu serakah dan loba kekuasaan. Sempitnya pikiran, sempitnya integritas.
Kemewahan vs Kesederhanaan
Mari kita bedah realita anggaran. Retreat reguler untuk pejabat dan ASN biasa menghabiskan Rp 500.000 hingga Rp 1.500.000 per orang per hari hanya untuk akomodasi hotel dan konsumsi. Untuk 50 peserta selama 3 hari, anggaran mudah melayang hingga Rp 105 juta bahkan lebih dari Rp 300 juta. Dana sebesar itu menguap untuk kemewahan sesaat, seringkali hanya menambah koleksi sertifikat tanpa menyentuh karakter.
Maka baru-baru ini ada seorang Gubernur di Pulau Sumatera, menggagas dan mempelopori Spiritual Retreat 72 jam, untuk para ASN, THL dan Pejabat yang diberi nama Retreat Merah Putih. Ini adalah sebuah langkah nyata untuk memperbaiki mentalitas para pelayan masyarakat. Retreat Spiritual 72 Jam di Masjid. Bukan di hotel mewah, tapi di rumah Allah. Di sini, biaya per orang per hari hanya Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Rinciannya pun penuh makna: konsumsi sederhana, sumbangan sukarela untuk masjid, perlengkapan ibadah, dan honor sederhana untuk pemandu spiritual. Untuk 50 peserta selama 3 hari, totalnya hanya Rp 7,5 juta sampai Rp 15 juta.
Dengan kata lain, dana satu kali retreat konvensional yang paling mahal (Rp 300 juta) bisa membiayai retreat spiritual untuk 2.000 orang lebih. Ini adalah efisiensi hingga 95%. Ini bukan sekadar penghematan, tapi pengalihan investasi: dari membiayai kemewahan fisik menjadi membiayai penyucian hati.
Cahaya di Masjid: Solusi yang Menyentuh Relung Hati
Seperti apa retreat spiritual itu? Peserta—para ASN, THL, dan pejabat—dikumpulkan di masjid. Mereka dilatih untuk:
1. Disiplin Ibadah Mahdhah: Shalat berjamaah di awal waktu, tahajud, dhuha, tilawah Qur’an, dan dzikir intensif selama 24 jam. Membersihkan hati dari karat duniawi.
2. Edukasi Empati: Diajak terjun langsung ke masyarakat, menemui umat di pasar, panti, dan kampung. Merasakan betapa sulitnya mengajak kepada kebaikan, sehingga menyadari tanggung jawab besar sebagai pelayan publik.
3. Perenungan Sejarah: Dibimbing merasakan penderitaan dakwah Rasulullah dan kesabaran para sahabat, sehingga problem kerja terasa lebih ringan dibanding ujian iman mereka.
4. Pembekalan Kembali ke Keluarga & Masyarakat: Dengan hati yang telah disentuh cahaya Ilahi, peserta dibekali untuk menjadi pribadi yang lembut di rumah, disiplin dan jujur di kantor, taat aturan, peduli pada rakyat, dan selalu menjaga amanah.
Solusi Konkret untuk Negeri
Sudah waktunya kita berani melakukan lompatan paradigma. Dari pembinaan administratif-menajerial menuju pembinaan qalbu dan spiritualitas. Caranya:
1. Kebijakan Wajib Nasional: Jadikan retreat spiritual berbasis masjid/pesantren sebagai program wajib dan prasyarat bagi calon pejabat eselon atau ASN di posisi rawan.
2. Realisasi Anggaran: Alihkan secara bertahap 50% atau lebih dari anggaran pelatihan dan refreshment konvensional yang mewah ke program yang lebih esensial dan berdampak ini.
3. Mentoring Berkelanjutan: Buat sistem pendampingan pasca-retreat melalui kelompok dukungan dan evaluasi spiritual berkala, bukan sekadar laporan administrasi.
4. Integrasi dengan Karir: Nilai integritas dan perubahan perilaku pasca-retreat harus menjadi komponen penting dalam penilaian kinerja dan pertimbangan promosi.
Ketika rasa takut kepada Allah lebih besar daripada takut pada atasan atau nafsu mengumpulkan harta, di situlah integritas sejati akan tegak. Korupsi bermula dari hati yang lapar dan takut miskin. Hanya cahaya iman dan kedekatan dengan Sang Pemberi Rezeki yang bisa mengobatinya.
Allah telah memberikan petunjuk. Kini, tinggal kesungguhan kita sebagai bangsa untuk mengambil jalan kembali: jalan kesederhanaan, ketakwaan, dan pembinaan hati. Karena membangun negeri yang kuat, harus dimulai dari membangun pemimpin yang takut hanya kepada Allah.
Penulis: Saeed Kamyabi








