Eksotisme Tersembunyi Nusantara: Menjelajah Pulau Tidung dan Pulau Enggano

Oleh Saeed Kamyabi

Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Indonesia dikenal sebagai negeri seribu pulau, namun tidak semua pulau mendapatkan sorotan yang sama. Di antara permata-permata tersembunyi itu, Pulau Tidung di Kepulauan Seribu dan Pulau Enggano di ujung barat Sumatera menyimpan keindahan alam, kekayaan budaya, serta potensi ekonomi yang luar biasa. Dua pulau yang jauh berbeda secara geografis dan karakter, namun sama-sama layak dijelajahi dan dikembangkan dalam kerangka pariwisata berkelanjutan. (24/06/2025)

Pulau Tidung: Surga Tropis di Pelukan Jakarta

Luas & Penduduk:
Pulau Tidung terbagi dua: Tidung Besar dan Tidung Kecil, dengan luas total sekitar 109 hektar. Pulau ini dihuni oleh sekitar 4.700 jiwa, mayoritas hidup dari sektor perikanan dan pariwisata.

Kemudahan Akses:
Dari Jakarta, Pulau Tidung dapat dicapai dengan kapal cepat selama 1,5 hingga 2 jam dari Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke. Kemarin saya naik Kapal Kayu Cahaya Laut hampir 3 jam. Infrastruktur wisata sudah cukup memadai, dengan penginapan, warung makan, dan jalur sepeda yang menyenangkan. Ada 8 Mushola dan 2 masjid Jami.

Keindahan Alam:
Pulau Tidung terkenal dengan Jembatan Cinta, ikon yang menghubungkan Tidung Besar dan Tidung Kecil. Perairan di sekitarnya jernih, dengan terumbu karang yang masih alami. Aktivitas seperti snorkeling, diving, dan bersepeda keliling pulau menjadi daya tarik utama.

Potensi Ekonomi:
Pariwisata berbasis masyarakat berkembang pesat. Homestay, kuliner laut, dan sewa sepeda menjadi sumber pendapatan utama warga. Eduwisata seperti penanaman mangrove dan konservasi penyu juga mulai dikembangkan, menjadikan Tidung sebagai contoh desa wisata pesisir yang berhasil.

Pulau Enggano: Mutiara di Samudra Hindia

Luas & Penduduk:
Pulau Enggano yang termasuk dalam wilayah Provinsi Bengkulu memiliki luas sekitar 400 km² (lebih besar dari Singapura) dan dihuni oleh sekitar 4.000 jiwa yang tersebar di enam desa utama. Penduduknya berasal dari suku Enggano yang unik dan masih menjaga adat istiadat.

Kemudahan Akses:
Enggano tergolong terpencil. Perjalanan dari Kota Bengkulu memerlukan waktu 10–12 jam dengan kapal laut, atau 1 jam menggunakan pesawat kecil (perintis). Namun saat ini masih kendala pendangkalan pelabuhan Pulau Baai dan terbatasnya jadwal serta cuaca sangat menentukan.

Keindahan Alam:
Pantai pasir putih, hutan tropis lebat, dan keanekaragaman hayati laut menjadikan Enggano seperti pulau perawan. Burung endemik, penyu bertelur, dan panorama bawah laut yang luar biasa belum banyak tersentuh industri wisata. Ini potensi dan sekaligus tantangan.

Potensi Ekonomi:
Meski saat ini masyarakat menggantungkan hidup pada pertanian, perikanan, dan hasil hutan non-kayu, Enggano menyimpan potensi ekonomi dari ekowisata, riset konservasi, dan wisata petualangan. Bila dikelola dengan bijak dan melibatkan masyarakat adat, pulau ini bisa menjadi destinasi kelas dunia yang unik dan beretika.

Menyatukan Visi dalam Pariwisata Langit

Pulau Tidung dan Pulau Enggano adalah dua wajah dari Indonesia: satu dekat pusat, satu di pinggiran; satu sudah ramai wisatawan, satu masih alami dan sunyi. Namun keduanya berbagi satu hal: potensi luar biasa yang belum sepenuhnya tergarap.

Dalam pendekatan Sistem Ekonomi Langit, pariwisata bukan hanya soal untung-rugi finansial, tapi bagaimana membangun peradaban berbasis nilai, keberlanjutan, dan keberkahan. Masyarakat adalah mitra utama, bukan pelayan dalam industri. Alam adalah titipan yang harus dijaga, bukan sekadar objek eksploitasi.

Jika dikelola dengan hati, dengan pendidikan yang tepat, dan peran serta semua pihak, maka Pulau Tidung akan terus bersinar sebagai ikon wisata pesisir urban, dan Pulau Enggano akan bangkit menjadi laboratorium pariwisata ekologi dan budaya Nusantara yang otentik.

Mari jelajahi, mari lindungi.

Ditulis oleh Saeed Kamyabi
Inisiator Sistem Ekonomi Langit & Penggerak Pariwisata Berbasis Nilai

  • Related Posts

    Analisis Kebijakan Bebas Visa Umrah Indonesia–Arab Saudi dalam Perspektif Visi Saudi 2030

    Pandangan Dr. Zainuddin Hasan Oleh: Saeed Kamyabi Bismillahirrahmanirrahim Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan secara konsisten menjadi penyumbang jamaah haji dan umrah terbesar…

    Analisis Ekonomi Langit untuk Perbaikan Sistem Ekonomi Indonesia Pasca Bencana Alam

    Konsep Ekonomi Langit Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Ekonomi Langit adalah konsep yang mengintegrasikan nilai-nilai ketuhanan, keberlanjutan, dan keadilan dalam sistem ekonomi. Konsep ini menekankan bahwa sumber daya alam adalah amanah dari…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *