Food Estate: Mimpi Swasembada Pangan di Negeri Kaya Raya  

Oleh: Saeed Kamyabi, Anak Tellulimpoe Bone, Inisiator Sistem Ekonomi Langit

Zonaindonesiaworld.com,Tangerang – Indonesia adalah negeri yang sangat layak untuk mencapai swasembada pangan. Lihatlah tanahnya—dari Sabang sampai Merauke, jutaan hektare lahan subur terbentang. Menurut data Kementerian Pertanian, luas lahan sawah kita sekitar 7,46 juta hektare (BPS, 2023), belum termasuk jutaan hektare lahan potensial yang bisa dioptimalkan.

Kesuburan tanah Nusantara sudah dikenal sejak zaman nenek moyang. Pulau Jawa, misalnya, memiliki tanah vulkanik yang sangat kaya mineral. Di luar Jawa, lahan-lahan pertanian di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua pun menjanjikan. Petani Indonesia dikenal gigih—meski dihimpit berbagai keterbatasan, mereka tetap menanam, tetap bertahan. Namun, mengapa negeri sekaya ini masih harus impor beras?

Mengapa Indonesia Gagal Swasembada?

Di era Presiden Soeharto, Indonesia pernah mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Namun, keberlanjutan itu tidak terjaga. Beberapa faktor utama penyebab kegagalan swasembada pangan:

1. Alih Fungsi Lahan

Setiap tahun, lebih dari 100.000 hektare sawah beralih fungsi menjadi kawasan industri, perumahan, atau infrastruktur (Kementan, 2023).

2. Ketergantungan pada Impor

Pemerintah cenderung mengambil jalan pintas dengan impor beras daripada memperkuat produksi dalam negeri. Impor beras tahun 2023 mencapai 3,06 juta ton (BPS, 2024), angka tertinggi dalam dua dekade terakhir.

3. Kebijakan yang Tidak Konsisten

Seharusnya, kebijakan pangan dirancang jangka panjang, tetapi sering berubah seiring pergantian pemimpin. Sistem tata niaga pangan juga lebih menguntungkan para importir daripada petani lokal.

4. Kurangnya Teknologi dan Infrastruktur

Distribusi pangan kita masih lemah. Banyak hasil panen terbuang sia-sia karena buruknya infrastruktur penyimpanan dan transportasi.

5. Dominasi Korporasi Besar

Sektor pertanian Indonesia dikuasai segelintir pemain besar. Petani kecil kesulitan mendapatkan akses modal, pupuk, dan pasar yang adil.

Bangsa Kaya, Tapi Mengapa Tidak Mandiri?

Indonesia dianugerahi kekayaan alam luar biasa. Gunung-gunungnya mengandung emas, terbukti dengan cadangan emas baru di NTB yang ditemukan pada 2023, diperkirakan mencapai 7,9 juta ons (Sumbawa Gold). Daratannya kaya minyak dan gas, dan lautannya penuh ikan besar.

Namun, kekayaan itu lebih banyak dikuasai asing atau elite tertentu. Kita lebih suka mengekspor bahan mentah ketimbang mengolahnya sendiri. Akibatnya, rakyat tetap bergantung pada impor, bahkan untuk makanan pokok seperti beras.

Apakah Bangsa Ini Kurang Bersyukur?

Menteri Amran pernah berkata, kebijakan pangan kita “kurang holistik.” Artinya, tidak melihat pertanian sebagai ekosistem yang harus dijaga dari hulu ke hilir. Tapi lebih dari itu, bangsa ini kurang bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah. Bersyukur bukan sekadar berdoa, tapi juga mengelola dan menjaga nikmat tersebut dengan baik.

Allah telah menetapkan bahwa setiap butir padi tumbuh dengan izin dan perintah-Nya. Namun, manusia yang diberi akal justru sering abai. Kita terlalu fokus pada kepentingan sesaat, bukan membangun kemandirian pangan jangka panjang.

Sistem Ekonomi Langit: Solusi untuk Indonesia

Jika Indonesia ingin sejahtera dan bahagia, Sistem Ekonomi Langit adalah jawabannya. Sistem ini menekankan prinsip keadilan, keseimbangan, dan keberkahan.

– Pertanian berbasis wakaf dan syariah dapat mengurangi ketimpangan kepemilikan lahan.

– Zakat dan sedekah produktif dapat membantu petani kecil mandiri tanpa bergantung pada bank atau rentenir.

– Distribusi hasil pertanian yang adil akan memastikan tidak ada yang kelaparan di negeri yang kaya ini.

Indonesia memiliki semua syarat untuk menjadi negara agraris yang mandiri. Namun, tanpa niat tulus dan sistem yang adil, swasembada pangan akan tetap menjadi mimpi. Mari kita ubah arah, kembalikan pertanian ke jalurnya, dan bersyukur dengan mengelola kekayaan ini dengan benar.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Wallahu a’lam. (*)

  • Related Posts

    Apakah Perang Iran-AS 28 Februari 2026 Adalah Perang Agama?

    Zonaindonesiaworld.com, Bengkulu – Fakta Konflik Hari Ini: Saat Bulan Suci Bertemu Ledakan Pada hari ke-11 Ramadhan 1447 H, tepatnya 28 Februari 2026, dunia menyaksikan ledakan serangan gabungan AS-Israel dengan nama…

    Ulasan Komparatif: Strategi Marketing McDonald’s vs Almaz Fried Chicken

    Zonaindonesiaworld.com, Bengkulu – Kedua merek makanan cepat saji ini mewakili pendekatan yang sangat berbeda dalam merespons dinamika pasar Indonesia. McDonald’s, sebagai raksasa global yang telah lama berkiprah di negeri ini,…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *