Zonaindonesiaworld.com, Bengkulu – Di dunia kepemimpinan, kita mengenal banyak gaya: otoriter, demokratis, transformasional, transaksional, partisipatif. Namun ada satu gaya yang jarang dibahas dalam teori kepemimpinan klasik, tapi sering muncul di ruang-ruang birokrasi, ruang rapat, hingga media sosial: gaya kepemimpinan ngambek. (10/07/2025)
Sikap ini tampak sederhana: diam, menjauh, pasif-agresif, menunda keputusan, atau bahkan absen dari forum penting. Namun jangan salah, dampaknya bisa sangat serius — memperlambat kerja tim, menciptakan kebingungan, bahkan merusak semangat organisasi.
Ngambek Bukan Marah, Tapi Saudara Dekatnya
Secara psikologis, ngambek adalah bentuk ekspresi pasif dari kemarahan atau kekecewaan. Jika marah muncul secara terbuka dan meledak, maka ngambek tampil dalam diam, penarikan diri, dan keengganan terlibat.
Ciri-cirinya antara lain:
* Wajah cemberut, diam berkepanjangan
* Tidak membalas pesan atau instruksi
* Menolak hadir tanpa penjelasan
* Menunda tanda tangan atau keputusan
* Mengabaikan usulan atau pembicaraan bawahan
Dengan kata lain, ngambek adalah bentuk silent protect, dengan harapan pihak lain peka dan memperbaiki keadaan — meski tanpa komunikasi langsung.
Ngambek: Lahir dari Hati atau Otak?
Pertanyaan penting: Apakah ngambek lahir dari hati yang terluka, atau otak yang sedang buntu?
Jawabannya: dari keduanya.
Ngambek adalah hasil reaksi antara limbic system (pusat emosi di otak) yang merasa tersinggung, terluka, atau tidak dihargai — dan pre frontal cortex (pusat logika dan kontrol diri) yang gagal mengambil alih situasi secara dewasa.
Ketika sistem limbik menang, dan logika diam, maka jadilah seorang pemimpin berpangkat tinggi, tapi tidak menjawab WA.
Pemimpin berkuasa besar, tapi menyiksa tim dengan keheningan.
Inilah mengapa ngambek bukan cuma urusan perasaan — tapi juga soal kedewasaan berpikir.
Apakah Ini Gaya Perempuan?
Gaya ini tidak eksklusif milik perempuan, namun perempuan lebih rentan menggunakannya karena alasan biologis dan kultural.
Dalam budaya kita, perempuan sering dibesarkan untuk:
* Menjaga harmoni dan menghindari konfrontasi langsung
* Tidak mudah marah di depan umum
* Menyimpan perasaan dan berharap orang lain mengerti
Akibatnya, dalam kepemimpinan, perempuan kadang lebih memilih ngambek ketimbang tegas menyampaikan keberatan. Namun penting dicatat: banyak juga pemimpin laki-laki yang ngambek, hanya kemasannya berbeda — lebih formal, lebih politis, tapi esensinya tetap sama: diam sebagai protes.
Jadi, ini bukan soal gender, tapi soal kecerdasan emosional.
Efektivitasnya dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Secara jujur, gaya ngambek tidak efektif, bahkan bisa sangat merugikan, terutama dalam organisasi pemerintahan yang menuntut kecepatan, transparansi, dan pelayanan publik.
Beberapa dampak negatifnya:
* Menghambat komunikasi: bawahan bingung, tak tahu apa yang salah
* Membunuh inisiatif: staf menjadi takut dan ragu bertindak
* Membuat suasana kerja jadi tegang dan penuh prasangka
* Memicu budaya saling mendiamkan dan ketidakjujuran
Dalam organisasi pemerintahan, di mana proses birokrasi kadang sudah lambat secara sistemik, gaya kepemimpinan ngambek hanya akan menambah kemacetan, menimbulkan friksi antar bagian, dan menjauhkan rakyat dari layanan yang mereka butuhkan.
Solusi: Dari Ngambek Menuju Kepemimpinan Emosional yang Matang
1. Tingkatkan Kecerdasan Emosional (EQ):
Pemimpin harus belajar mengenali emosinya dan menyampaikannya dengan cara dewasa dan asertif.
2. Bangun Budaya Komunikasi Terbuka:
Tak perlu sungkan menyampaikan ketidaknyamanan secara langsung tapi santun. Komunikasi bukan kelemahan, tapi kekuatan.
3. Latih Ketegasan Tanpa Kekerasan:
Seorang pemimpin bisa tegas tanpa harus marah. Bisa kecewa tanpa harus ngambek.
4. Sediakan Ruang Refleksi dan Konseling Internal:
Pemerintah daerah maupun lembaga besar sebaiknya memiliki konsultan psikologis atau forum komunikasi vertikal-horizontal agar para pemimpin tidak memendam masalah.
5. Berani Bicara, Berani Memaafkan:
Ngambek sering muncul dari luka batin yang tidak segera dibicarakan. Melatih keberanian menyampaikan isi hati dan memberi ruang maaf adalah kunci kepemimpinan emosional yang dewasa.
Kenapa Ini Harus Jadi Bacaan Wajib Para Pemimpin Perempuan
Perempuan adalah pemimpin dengan kekuatan batin yang besar. Ketika mampu mengelola emosinya, perempuan bisa menjadi pemimpin paling empatik, paling inspiratif, dan paling kuat dalam menghadapi tekanan.
Namun ketika emosi dibiarkan mengatur keputusan, lalu disimpan dalam diam yang panjang, maka yang hancur bukan hanya hati sendiri, tapi juga arah organisasi.
Maka artikel ini semestinya menjadi bacaan wajib:
* Bukan untuk menyalahkan kelembutan, tapi mengasahnya menjadi kebijaksanaan.
* Bukan untuk menghapus emosi, tapi mengarahkannya menjadi energi perbaikan.
* Bukan untuk melarang rasa kecewa, tapi membimbingnya agar menjadi dialog sehat, bukan diam menyakitkan.
Buatlah Kepemimpinan yang Menyembuhkan, Bukan yang Menyayat
Pemimpin yang matang bukan yang tak pernah kecewa, tapi yang tahu cara menyampaikan kecewanya secara sehat.
Pemimpin yang kuat bukan yang selalu tersenyum, tapi yang bisa berkata,
“Saya terluka, tapi saya tetap hadir untuk memimpin.”
Maka tinggalkan gaya ngambek, dan mari bangun gaya kepemimpinan baru bersama MQG Training — yang tak hanya cerdas secara strategi, tapi juga sehat secara emosi.
Karena sejatinya, pemimpin bukan hanya yang mampu bicara di podium,
tetapi yang mampu menyembuhkan luka dalam diam timnya — dengan pelukan kepemimpinan yang utuh.
Penulis: Saeed Kamyabi
Founder MQG Training








