Jembatan Merak-Bakauheni: Menghubungkan Mimpi Nasional dengan Panggung Spiritual Dunia

Zonaindonesiaworld.com, Tangerang – Indonesia berada di ambang era baru yang kaya akan peluang bersejarah. Di satu sisi, kita memiliki visi besar Indonesia Emas 2045, yang membutuhkan percepatan pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, kita memiliki kesempatan emas untuk menjadi tuan rumah acara spiritual global: Ijtima Dunia Tabligh pada 28 Oktober – 20 November 2025. Kedua agenda besar ini, yang satu berfokus pada pembangunan fisik dan ekonomi, dan yang lainnya pada dimensi spiritual dan sosial, bertemu dalam satu visi yang sama: membangun Jembatan Merak-Bakauheni. (25/11/2025)

Bayangkan jutaan jamaah dari seluruh dunia berkumpul di Indonesia, sebagian besar melalui pelabuhan Merak dan Bakauheni, gerbang utama yang menghubungkan Jawa dan Sumatera. Sayangnya, gerbang ini saat ini menghadapi tantangan besar: antrean feri yang bisa memakan waktu 3-5 jam untuk penyeberangan yang seharusnya hanya 2 jam. Inefisiensi logistik ini menyebabkan kerugian triliunan rupiah, risiko keselamatan, dan ketergantungan pada cuaca, yang tidak dapat lagi diabaikan.

Ijtima 2025: Katalisator Percepatan yang Dinantikan

Ijtima Dunia Tabligh bukan hanya sekadar acara keagamaan; ia adalah katalisator yang mempertegas urgensi pembangunan jembatan ini. Acara sebesar ini membutuhkan konektivitas yang lancar, cepat, dan aman. Ketergantungan pada feri yang rentan terhadap cuaca dan kapasitas terbatas merupakan risiko logistik yang tidak dapat diterima untuk acara berskala dunia.

Jembatan Merak-Bakauheni hadir sebagai solusi strategis. Dengan mempersingkat waktu perjalanan dari 5-8 jam menjadi sekitar 1 jam, jembatan ini akan menjadi “jalan tol spiritual” yang memfasilitasi pergerakan jutaan jamaah dengan lancar. Ini tidak hanya mengatasi masalah logistik, tetapi juga menjadi simbol keramahan dan kesiapan Indonesia dalam menyambut dunia.

Dari Acara Tunggal Menuju Agenda Tahunan Dunia

Visi besar ini tidak berhenti pada Ijtima 2025. Jika infrastruktur pendukung memadai—dengan Jembatan Merak-Bakauheni sebagai tulang punggungnya—acara sebesar Ijtima berpotensi menjadi agenda tahunan tetap di Indonesia.

Bayangkan dampak ekonominya: acara spiritual tahunan yang menarik jutaan jamaah, didukung oleh infrastruktur kelas dunia. Jembatan ini akan menjadi arteri vital yang memastikan keberlanjutan acara tersebut, sekaligus mengubah kawasan Selat Sunda menjadi pusat kegiatan keagamaan dan ekonomi global yang berdenyut setiap tahun. Ini sejalan dengan keuntungan strategis jembatan: menciptakan aliran pendapatan yang stabil dari sektor pariwisata dan logistik, jauh melampaui sekadar pendapatan tol.

Proposal Investasi yang Menyatukan Kemakmuran dan Iman

Dari sudut pandang investasi, proyek senilai USD 10-12 Miliar ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan keharusan yang mendesak. Analisis keuangannya sangat menjanjikan:

– Sumber Pendapatan Multi-Stream: Dari tol kendaraan (potensi Rp 2,7 Triliun/tahun), tiket kereta api, hingga pendapatan komersial di rest area.
– Proyeksi Keuangan Solid: IRR 14-16%, Payback Period 12-14 tahun, dan ROI total hingga 400% dalam 35 tahun konsesi.
– Mitigasi Risiko Tinggi: Dengan posisi monopoli sebagai satu-satunya penghubung darat Jawa-Sumatera, permintaannya tidak elastis dan terdiversifikasi dengan baik.

Dengan dukungan skema KPBU dan jaminan pemerintah, proyek ini adalah investasi berkualitas tinggi yang memadukan profitabilitas komersial dengan dampak sosial dan spiritual yang monumental.

Kesimpulan: Menghubungkan Pulau, Menyatukan Umat, Memajukan Bangsa

Jembatan Merak-Bakauheni telah melampaui diskusi teknis semata. Ia kini adalah simbol persatuan dan kemajuan dalam tiga dimensi:

1. Fisik: Menghubungkan dua pusat ekonomi vital, Jawa dan Sumatera.
2. Ekonomi: Menjadi economic gateway yang menghemat triliunan rupiah dan menciptakan lapangan kerja.
3. Spiritual: Menjadi jembatan peradaban yang memfasilitasi silaturahmi umat beragama skala global, dimulai dari Ijtima 2025 dan berpotensi menjadi agenda tahunan dunia.

Membangun Jembatan Merak-Bakauheni berarti membangun warisan untuk generasi mendatang. Ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya siap menyambut dunia dengan iman, tetapi juga dengan infrastruktur yang gemilang. Inilah saatnya kita mengubah keterisolasian menjadi konektivitas, dan hambatan geografis menjadi jembatan kemakmuran dan spiritual bagi seluruh rakyat Indonesia dan dunia. Wallahu a’lam.

Penulis: Saeed Kamyabi
Membangun Indonesia Emas

  • Related Posts

    Analisis Kebijakan Bebas Visa Umrah Indonesia–Arab Saudi dalam Perspektif Visi Saudi 2030

    Pandangan Dr. Zainuddin Hasan Oleh: Saeed Kamyabi Bismillahirrahmanirrahim Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan secara konsisten menjadi penyumbang jamaah haji dan umrah terbesar…

    Analisis Ekonomi Langit untuk Perbaikan Sistem Ekonomi Indonesia Pasca Bencana Alam

    Konsep Ekonomi Langit Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Ekonomi Langit adalah konsep yang mengintegrasikan nilai-nilai ketuhanan, keberlanjutan, dan keadilan dalam sistem ekonomi. Konsep ini menekankan bahwa sumber daya alam adalah amanah dari…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *