ZIW.com, Tangerang — Program 80.000 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih merupakan langkah besar pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan. Target operasional penuh pada Maret 2026 menunjukkan keseriusan pemerintah membangun fondasi ekonomi berbasis gotong royong. (24/10/2025)
Namun, muncul pertanyaan reflektif: Mengapa jaringan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret yang jumlah gerainya tidak sampai setengah dari target Kopdes, bisa begitu terasa kehadirannya di setiap daerah, sementara 80.000 Kopdes justru seolah belum tampak nyata?
Kunci Keberhasilan: Bukan Jumlah, Tapi Jiwa Entrepreneur
Menurut Saeed Kamyabi, Founder MQG Training, keberhasilan bukan hanya soal kuantitas gerai, tetapi tentang semangat penggerak di baliknya.
“Alfamart dan Indomaret tumbuh pesat karena digerakkan oleh sistem bisnis yang kuat: manajemen profesional, pola pikir pengusaha, dan semangat kompetitif untuk terus berkembang. Mereka tidak hanya membangun toko, tapi mencetak entrepreneur di setiap cabangnya,” jelas Saeed.
Sebaliknya, kata Saeed, Kopdes Merah Putih berpotensi menjadi proyek fisik semata jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM pengelola. “Kita butuh perubahan mental dari ‘mental pekerja’ menjadi ‘mental pengusaha’ yang proaktif, kreatif, dan berorientasi hasil,” tambahnya.
MQG Training: Mencetak 80.000 Koperpreneur
Melihat tantangan tersebut, MQG Training hadir untuk menjawab kebutuhan utama program Kopdes: mencetak 80.000 Koperpreneur, yaitu pengelola koperasi yang memiliki jiwa wirausaha, semangat pelayanan, dan kemampuan manajerial modern.
Pelatihan yang ditawarkan tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga transformasi pola pikir dan kompetensi praktis yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
Strategi Solusi MQG Training: Membangun “Efek Alfamart” di Kopdes Merah Putih
1. Menanamkan Pola Pikir Waralaba
Pengelola Kopdes dilatih berpikir layaknya pemilik usaha. Mereka belajar memahami target, pelayanan pelanggan, hingga strategi peningkatan keuntungan di tingkat desa.
2. Membangun Standar Pelayanan Dasar
MQG Training menanamkan standar pelayanan retail modern—mulai dari Senyum, Salam, Sapa, hingga manajemen toko sederhana agar Kopdes tampil profesional dan dipercaya masyarakat.
3. Pelatihan Berbasis Aksi (Action-Based Learning)
Modul seperti “Hari Pertama Buka Toko” dan “Jago Jualan di Desa Sendiri” memastikan peserta langsung praktik dan menghasilkan dampak nyata sejak awal.
4. Menumbuhkan Jiwa Merah Putih
Setiap pengelola dilatih memiliki rasa bangga bahwa mereka adalah bagian dari gerakan nasional untuk memajukan desa. Ini adalah brand identity khas Kopdes Merah Putih yang membedakannya dari korporasi lain.
Ajakan Kolaborasi untuk Pemerintah
Saeed Kamyabi menegaskan pentingnya sinergi antara pembangunan infrastruktur dan pembangunan manusia. “Bangunan dan modal adalah fondasi, tetapi jiwa entrepreneur-lah yang menghidupkan koperasi. Kami siap bermitra dengan Kementerian Koperasi dan Satgas Kopdes Merah Putih untuk memastikan program ini benar-benar hidup, bukan hanya berdiri,” ujarnya.
Dengan kolaborasi strategis ini, MQG Training menargetkan agar pada Maret 2026, bukan hanya 80.000 bangunan yang selesai dibangun, tetapi 80.000 koperasi yang benar-benar hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan desa.
“Mari kita wujudkan ekonomi kerakyatan yang modern, mandiri, dan berjiwa gotong royong, dengan SDM unggul dan berjiwa entrepreneur,” tutup Saeed.
(Saeed Kamyabi – Founder MQG Training)








