Zonaindonesiaworld.com, Bogor – Kesadaran untuk menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan menjadi pesan utama dalam tausiyah keagamaan yang disampaikan di Musholla Al-Masberto, Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, pada Senin, (29/12/2025).
Dalam kegiatan dakwah tersebut, Roedi Susyanto selaku Pimpinan Umum Zona Media Nusantara Group, yang juga merupakan jamaah aktif, menegaskan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari kehendak dan peran Allah SWT. Menurutnya, Allah SWT adalah Zat yang mengatur seluruh aspek kehidupan, baik siang dan malam, urusan dunia maupun akhirat, sekaligus memberikan manusia pilihan untuk menentukan arah hidupnya. (31/12/2025)
Kegiatan keagamaan ini berlangsung dalam suasana khusyuk bertepatan dengan pelaksanaan nisob bulanan khuruj fisabilillah selama tiga hari. Tausiyah turut dihadiri para da’i yang tengah melaksanakan khuruj empat bulan, di antaranya Ustadz Ipung, Syaikh Dodi, Syaikh Wahyu, Syaikh Sodikin, dan Syaikh Fajar.
Roedi Susyanto yang juga dikenal sebagai Pimpinan Umum Media Garda Merah Putih News, media yang dikelola oleh Departemen Kominfodigi Dewan Koordinasi Nasional Garda Prabowo dengan kantor di kawasan Jalan Alternatif Cibubur, menyampaikan komitmennya untuk terus istiqomah dalam dakwah. Ia menargetkan peningkatan khuruj fisabilillah menjadi 40 hari pada tahun 2026.
Menurut Roedi, program khuruj fisabilillah memiliki peran strategis dalam memperkuat pondasi keimanan umat. Dakwah, kata dia, merupakan pondasi agama, sementara inti dakwah terletak pada jaulah atau silaturahmi dari rumah ke rumah, mengajak kaum muslimin untuk memakmurkan masjid melalui shalat berjamaah, sebagaimana dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW.
“Program khuruj fisabilillah ini mengikuti sunnah Rasulullah SAW, para sahabat, para wali Allah, dan para da’i-Nya. Jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, insyaAllah Allah SWT akan memberikan kesuksesan, keselamatan, serta keberkahan dunia dan akhirat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Roedi Susyanto menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari mengabaikan ajaran agama. Menurutnya, kecerdasan hakiki adalah kemampuan memilih jalan ketaatan dan keselamatan, bukan sekadar kecerdasan intelektual semata.
“Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Ibadah seperti shalat, puasa, dan dzikir tidak membutuhkan biaya, namun memberikan balasan berupa ketenangan jiwa, keberkahan hidup, dan kekuatan moral. Sebaliknya, pelanggaran terhadap nilai agama justru menuntut pengorbanan materi dan berujung pada kegelisahan batin,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa menjadikan akhirat sebagai tujuan utama akan melahirkan disiplin spiritual sejak dini. Ibadah tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan menjadi budaya hidup.
“Shalat berjamaah, qiyamul lail, serta amal kebaikan lainnya akan mengakar dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi benteng dari godaan dunia yang menyesatkan,” tutur Roedi dalam tausiyahnya.
Dakwah, lanjutnya, sejatinya dimulai dari diri sendiri. Ketika seseorang mampu menjadi imam bagi dirinya, maka nilai-nilai keimanan akan mengalir ke dalam keluarga, anak-anak, dan lingkungan sekitarnya. Dari proses inilah akan lahir generasi yang berakhlak mulia, beriman, dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan dakwah ini, diharapkan umat Islam semakin menyadari bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sementara akhirat adalah tujuan hakiki. Dengan menjadikan ketaatan kepada Allah SWT sebagai budaya hidup, insyaAllah keberkahan dan kebaikan akan senantiasa menyertai setiap langkah kehidupan. (Syz08)








