Menyikapi “RI Juara Penipuan Dunia”: dan Momentum Ramadan 1447H sebagai Titik Balik

Zonaindonesiaworld.com, Bengkulu – Indonesia kembali menjadi sorotan global setelah dalam Global Fraud Index 2025 yang dirilis pekan ini, negara kita tercatat sebagai negara dengan tingkat perlindungan penipuan terendah kedua di dunia sepanjang 2025, hanya unggul dari Pakistan. Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebutkan lebih dari 70% kasus didominasi modus social engineering atau rekayasa sosial—yang bahkan menjebak kalangan terdidik seperti profesor dan dokter. (17/02/2026)

Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, rilis mengejutkan ini menjadi tamparan keras bagi seluruh elemen bangsa. Menanggapi hal ini, Saeed Kamyabi, da’i, pemerhati sosial, dan anggota Steering Committee Retreat Merah Putih Bengkulu, mengungkapkan bahwa data tersebut bukan sekadar statistik kejahatan, melainkan cerminan krisis fundamental bangsa: krisis iman dan ketakwaan.

“Ini adalah kabar buruk bagi negara dan bangsa kita. Ketika seorang profesor atau dokter yang berpendidikan tinggi bisa dengan mudah terperangkap rekayasa sosial, itu tandanya masalahnya bukan di IQ, tapi di iman,” tegas Kamyabi dalam pernyataannya pada Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, social engineering adalah kejahatan yang memanipulasi kondisi psikologis seseorang. “Psikologi seseorang akan rapuh jika hatinya kosong dari zikir. Ia akan mudah tergoda iming-iming keuntungan sesaat, mudah panik, dan kehilangan pertimbangan jernih. Tanpa benteng iman, kecanggihan teknologi justru menjadi ladang petaka.”

Analogi Sejarah: Mengubah ‘Jahiliyah Modern’ dengan Dakwah

Kamyabi menarik paralel dengan sejarah keemasan Islam. Ia mengingatkan bahwa masyarakat Arab pra-kenabian (jahiliyah) hidup dalam kebodohan, perampokan, dan penipuan, bahkan menjadi masyarakat yang paling tidak aman. Namun dalam waktu singkat, mereka berubah menjadi khairu ummah—umat terbaik yang menjadi mercusuar peradaban dunia.

“Apa yang diubah Rasulullah? Beliau tidak langsung membuat sistem keamanan atau regulasi ekonomi yang rumit di Mekkah. Beliau terlebih dahulu membangun manusia dengan menanamkan aqidah, membersihkan jiwa, dan membangun akhlak melalui Al-Qur’an,” ujarnya.

Dakwah yang membangun iman di hati dan ketakwaan dalam setiap langkah itulah yang mengubah segalanya, katanya. “Jika masyarakat jahiliyah yang bejat seperti itu bisa berubah menjadi guru dunia, maka bangsa ini pun pasti bisa.”

Menurut Kamyabi, kondisi Indonesia saat ini adalah potret “jahiliyah modern”. Kemajuan teknologi tanpa diimbangi kekuatan iman melahirkan budaya serba instan, materialistis, dan hilangnya rasa malu untuk berbuat curang.

Ramadan 1447 H: Madrasah Perbaikan Diri dan Momentum Mitigasi Langit

Menyambut bulan suci yang penuh berkah, Kamyabi menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum emas untuk melakukan perbaikan diri secara massal. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan latihan komprehensif untuk membangun pribadi yang bertakwa.

“Ramadan 1447 H datang pada saat yang tepat. Ini adalah madrasah tahunan yang Allah berikan kepada kita untuk melatih kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan,” jelasnya.

Ia mengutip sabda Rasulullah: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” “Ini kunci! Jika selama Ramadan kita terbiasa jujur, amanah, dan waspada terhadap godaan dunia, maka setelah Ramadan kebiasaan itu akan melindungi kita dari tipu daya penipuan.”

Teladan Nyata dari Bengkulu: Program Retret Merah Putih

Menanggapi seruan pemerintah pusat untuk konsolidasi lintas sektor, Kamyabi menunjukkan contoh konkret dari Provinsi Bengkulu di bawah kepemimpinan Gubernur Helmi Hasan. Program Retret Merah Putih yang digagas sejak 2025 dinilai sebagai model nyata pembangunan iman dan takwa yang sistematis bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pelajar SLTA.

“Pemerintah pusat bicara konsolidasi sistem dan penguatan regulasi verifikasi data, itu baik. Tapi di Bengkulu, Pak Gubernur Helmi Hasan sudah memulai konsolidasi hati melalui program mitigasi langit. Ini langkah revolusioner!” puji Kamyabi yang terlibat langsung sebagai pengarah program tersebut.

Program berbasis rumah ibadah ini telah berjalan secara berkelanjutan dengan hasil nyata:

– Program ini telah diikuti sekitar 3000an peserta, yakni ASN pria 10 angkatan, wanita 4 angkatan dan Pelajar 17 angkatan. Ada yang menjalani pembinaan intensif selama 72 jam, ada yang 8 jam dan ada yang hanya 1,5 jam. Mereka belajar dari hal dasar seperti perbaikan bacaan Al-Fatihah hingga adab sunnah sehari-hari. Bahkan Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni menyampaikan bahwa banyak peserta baru sadar bacaan shalatnya masih keliru.

– Gubernur Helmi Hasan juga mengeluarkan kebijakan masjid buka 24 jam dan edaran penghentian aktivitas 20 menit sebelum azan, agar ASN dapat berjamaah ke masjid. “Membiasakan ASN hadir di rumah Allah sebelum mereka sibuk melayani masyarakat. Ini fondasi!” tegas Kamyabi.

Kesaksian Transformasi Peserta

Kamyabi menceritakan kesaksian para peserta retret. Banyak dari mereka mengaku baru pertama kali melaksanakan shalat Tahajud, shalat Tasbih, hingga belajar adab masuk kamar mandi dan kamar tidur sesuai sunnah. Bahkan ada peserta berusia 50 tahun yang baru mengetahui shalat-shalat sunnah seperti Isyraq, Awwabin, dan Hajat melalui program ini.

“Seorang peserta mengaku, ‘Saya awalnya kesal terpilih ikut retret, tapi setelah tiga hari saya sadar betapa dangkal pemahaman agama saya. Saya kira shalat fardhu saja cukup masuk surga.’ Ini potret ASN kita! Bayangkan jika 500 ASN yang telah mengikuti retret ini pulang dengan iman yang kokoh, mustahil mereka tergoda korupsi atau menjadi korban penipuan,” paparnya.

Ramadan Adalah ‘Retret Merah Putih’ Nasional

Kamyabi mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Ramadan 1447 H sebagai “Retret Merah Putih” versi pribadi masing-masing dengan langkah konkret:

1. Perbaiki bacaan Al-Qur’an dan jangan malu belajar dari dasar.
2. Hidupkan masjid sebagai pusat aktivitas, bukan hanya untuk shalat fardhu.
3. Latih kejujuran dan jadikan puasa sebagai tameng dari perbuatan dusta dan manipulasi.
4. Perkuat silaturahmi dan kepedulian sosial, seperti mengunjungi rumah tetangga untuk mendata anak yatim dan warga kurang mampu.

Di akhir pernyataannya, Kamyabi menyampaikan ucapan selamat menyambut bulan penuh berkah dan mengingatkan untuk menjaga kebiasaan baik setelah Ramadan.

“Ramadan adalah madrasah yang mengajarkan kita menjadi pribadi bertakwa. Mari sambut bulan mulia ini dengan hati bersih dan tekad kuat untuk memperbaiki diri. Pemerintah sibuk dengan konsolidasi data dan sistem, itu baik. Tapi mari kita semua fokus pada konsolidasi hati, konsolidasi iman dan takwa. Jika kita berhasil membangun masyarakat yang beriman dan bertakwa, maka Allah SWT akan mengirimkan pertolongan-Nya,” katanya.

Ia berharap, dengan memanfaatkan Ramadan sebaik-baiknya dan meneladani program pembinaan iman seperti di Bengkulu, masyarakat Indonesia akan memiliki benteng iman yang kokoh sehingga tidak mudah menjadi korban penipuan. “Pada akhirnya, peringkat Indonesia di Global Fraud Index dapat berangsur membaik, dari posisi 111 menuju negara yang aman, damai, dan bermartabat di bawah naungan ridha ilahi”

“Dari Bengkulu, saya menyaksikan sendiri bagaimana program Retret Merah Putih mampu mengubah ASN dan pelajar menjadi pecinta masjid dan ahli ibadah. Mari kita tiru semangat ini di bulan Ramadan. Kepada seluruh kaum muslimin, saya haturkan: Marhaban ya Ramadan! Selamat menunaikan ibadah puasa 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin. Jadikan Ramadan ini titik balik kebangkitan iman dan akhlak bangsa Indonesia!” @sangsaka

  • Related Posts

    Analisis Kebijakan Bebas Visa Umrah Indonesia–Arab Saudi dalam Perspektif Visi Saudi 2030

    Pandangan Dr. Zainuddin Hasan Oleh: Saeed Kamyabi Bismillahirrahmanirrahim Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan secara konsisten menjadi penyumbang jamaah haji dan umrah terbesar…

    Analisis Ekonomi Langit untuk Perbaikan Sistem Ekonomi Indonesia Pasca Bencana Alam

    Konsep Ekonomi Langit Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Ekonomi Langit adalah konsep yang mengintegrasikan nilai-nilai ketuhanan, keberlanjutan, dan keadilan dalam sistem ekonomi. Konsep ini menekankan bahwa sumber daya alam adalah amanah dari…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *