Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Di negeri yang konon kaya raya ini, kita punya mimpi besar: menjadi bangsa yang maju, berdaulat, dan bermartabat. Kata-kata itu terdengar megah, bak puisi yang ditulis di awan. Tapi, coba dengar baik-baik amanat lagu Indonesia Raya ciptaan WR Soepratman: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.” Lagu itu bukan sekadar nada-nada indah. Konon, ia lahir dari ilham langit, berkah doa orang-orang saleh, dan darah para pejuang yang bertarung nyawa melawan penjajah. Mereka bermimpi Indonesia merdeka, rakyatnya sejahtera, jiwanya kuat, badannya sehat. Tapi, setelah merdeka, apa yang kita isi di tanah air ini? Mal, stadion, gapura, atau utang yang menumpuk bak gunung?
Mari kita kilas balik. Angkatan ’45, para pahlawan kemerdekaan, meninggalkan warisan tak ternilai: kemerdekaan, persatuan, dan semangat juang. Mereka tak punya banyak harta, tapi darah dan air mata mereka menanam fondasi bangsa. Kekayaan materi? Hampir nol, karena penjajah sudah menguras habis sumber daya alam kita. Lalu datang Angkatan ’66, yang membawa semangat “Orde Baru” dengan janji pembangunan. Mereka meninggalkan warisan berupa infrastruktur dasar, seperti jalan, irigasi, dan sekolah. Kekayaan alam mulai digali, minyak bumi dan gas mengalir, tapi bersamaan dengan itu, korupsi mulai merajalela. Utang luar negeri mulai menumpuk, mencapai sekitar 52 miliar dolar AS pada akhir era Soeharto (1998), atau setara Rp 700 triliun dengan kurs saat ini. (01/08/2025)
Fast forward ke 2024, utang Indonesia sudah mencapai angka fantastis: 38,68% dari Produk Domestik Bruto (PDB), atau sekitar Rp 8.500 triliun (berdasarkan rasio utang Kementerian Keuangan). Rasio ini memang di bawah batas aman 60% PDB, tapi tetap saja, bunganya mencekik. Bayangkan, rakyat harus membayar bunga utang ini sambil berjuang membeli beras yang harganya melambung.
Kekayaan alam? Masih melimpah. Indonesia punya cadangan batubara terbesar ke-5 dunia, nikel terbesar di planet ini, dan laut yang kaya ikan. Tapi, rakyatnya? Seperti anak ayam yang mati kelaparan di lumbung padi. Menggali tanah sendiri dilarang tanpa izin berlapis. Menanam pohon di kebun sendiri harus lapor. Menangkap ikan di laut sendiri butuh sertifikat. Bahkan, jualan di trotoar pun bisa digusur. Aturan-aturan ini bagaikan rantai yang membelenggu rakyat di tanah mereka sendiri.
Apa yang salah? Pengkhianatan terhadap amanat Indonesia Raya. Jiwa bangsa tak dibangun, badannya dibiarkan lemah. Lihatlah pembangunan di negeri ini. Mall-mall megah menjamur, gapura-gapura raksasa berdiri gagah, stadion-stadion dibangun dengan anggaran triliunan. Tapi masjid? Harus pasang drum di tengah jalan, meminta belas kasihan pengendara agar bisa selesai dibangun.
Ironis, bukan? Mall yang nantinya ramai pengunjung dibangun tanpa drama, tapi rumah ibadah yang jadi pusat pembangunan jiwa harus mengemis. Ini bukan soal agama, ini soal prioritas yang terbalik.
Mari kita bandingkan anggaran infrastruktur 2025, Kementerian PUPR mendapat pagu anggaran sebesar Rp 116,23 triliun dalam RAPBN 2025. Anggaran ini fokus pada jalan, jembatan, bendungan, dan proyek-proyek strategis.
Sementara itu, Kementerian Agama, yang menangani pendidikan agama melalui madrasah, pesantren, dan pendidikan keagamaan lainnya, memiliki pagu anggaran sebesar Rp 78,5 triliun dalam RAPBN 2025. Namun, tidak semua anggaran ini dialokasikan untuk pendidikan agama.
Kesengsaraan ini bukan karena tanah kita miskin. Bukan karena rakyat kita bodoh. Ini karena pengelolaan yang salah, prioritas yang terbalik, dan semangat Indonesia Raya yang dikhianati. Kita sibuk membangun monumen fisik, tapi lupa membangun jiwa rakyat. Kita bangga dengan jalan tol, tapi tak peduli anak-anak yang putus sekolah. Kita pamer stadion megah, tapi masjid—pusat pembangunan akhlak—harus mengemis dana.
Wahai saudaraku, inilah saatnya kita kembali ke amanat Indonesia Raya. Bangun jiwa bangsa dengan pendidikan, akhlak, dan ibadah.
Salurkan zakat, infak, sedekah, atau donasi Anda untuk memakmurkan masjid, tempat jiwa-jiwa dibina. Yayasan Masjid Makmur Indonesia siap menampung kebaikan Anda melalui rekening BSI nomor 7169004727 atas nama Yayasan Masjid Makmur Indonesia.
Jangan biarkan mall dan stadion mengalahkan masjid. Jangan biarkan utang dan aturan membunuh mimpi para pejuang. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya—atau kita hanya akan jadi bangsa yang merdeka di atas kertas, tapi sengsara di tanah sendiri. Wallahu a’lam.
Penulis: Saeed Kamyabi








