Oleh Saeed Kamyabi – Inisiator Sistem Ekonomi Langit
ZIW.com, Tangerang – Ungkapan “Negara ini bukan kekurangan uang, tapi kelebihan maling” kini bukan sekadar meme lucu di media sosial. Kalimat ini justru mencerminkan realitas sosial-ekonomi Indonesia yang tengah menghadapi krisis moral dan spiritual.
Menurut Saeed Kamyabi, Inisiator Sistem Ekonomi Langit, meme tersebut adalah “diagnosis jujur terhadap penyakit lama” — korupsi yang semakin merajalela dari masa ke masa, hanya berganti bentuk dan gaya.
Fakta “Kelebihan Maling”: Data Tak Bisa Bohong
1. Korupsi Menggerogoti Uang Negara
Berdasarkan data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sepanjang 2019–2023, negara dirugikan hingga Rp103,5 triliun akibat korupsi. Jumlah kasusnya melonjak dari 271 kasus pada 2019 menjadi 791 kasus pada 2023.
Contohnya kasus besar Asabri dan Jiwasraya — uang pensiun rakyat justru dijadikan ajang memperkaya diri segelintir pejabat.
2. Maling Berdasi, Bukan Sekadar Pencuri Biasa
Korupsi modern kini dijalankan lewat rekayasa anggaran, mark-up proyek, hingga suap tender. Banyak kepala daerah tertangkap tangan KPK saat tengah “mengatur” anggaran publik. Mereka bukan pencuri kecil, tapi pengkhianat amanah rakyat.
3. Kemana Larinya Uang Pajak?
Dengan target penerimaan pajak mencapai lebih dari Rp1.000 triliun pada 2024, publik wajar bertanya-tanya: ke mana semua uang itu mengalir? Kasus-kasus korupsi di lingkungan perpajakan menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem yang seharusnya mengelola uang rakyat.
Dari Zaman Jahiliyah hingga Era Modern: Penyakit Lama yang Tak Sembuh
Kamyabi menegaskan, penyakit “kelebihan maling” ini bukan hal baru.
– Zaman Jahiliyah: Masyarakat terbiasa menipu timbangan dan menindas yang lemah.
– Zaman Fir’aun: Korupsi dan penindasan dilembagakan, kekayaan hanya untuk penguasa (QS. Al-Qashash: 4).
– Zaman Modern: Pencuri berdasi beraksi lewat rekening bank dan proyek besar. Bentuknya berubah, tapi akarnya sama — lemahnya iman dan hilangnya rasa takut kepada Allah.
Sistem Ekonomi Langit: Solusi Menyeluruh hingga ke Akar
Menurut Kamyabi, sistem ekonomi langit (syariah) menawarkan solusi struktural sekaligus spiritual agar kejahatan ekonomi bisa diberantas dari akarnya. Berikut lima pilar utamanya:
1. Membangun Manusia yang Takut kepada Allah
Rasulullah SAW bersabda: “Daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi).
Pendidikan iman dan rezeki halal menjadi kontrol diri yang paling kuat. Zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz membuktikan, ketika iman kokoh, korupsi hampir tak ada.
2. Menegakkan Hukum Hudud yang Tegas dan Adil
Potong tangan bagi pencuri (dengan syarat ketat) bukan bentuk kekejaman, tapi perlindungan sosial agar rakyat tak dirugikan. Hukum tegas membuat orang berpikir seribu kali sebelum berbuat curang.
3. Menolak Riba dan Spekulasi
Ekonomi syariah melarang riba karena menjadi akar ketimpangan. Prinsip transparansi, keadilan, dan bagi hasil mencegah penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang.
Krisis finansial global 2008 membuktikan: sistem riba gagal, sementara bank syariah tetap kokoh karena berbasis aset riil.
4. Zakat Sebagai Alat Pemerataan Kekayaan
Zakat bukan sekadar amal, tapi instrumen wajib negara untuk mendistribusikan kekayaan. Allah berfirman: “Agar harta itu tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja.” (QS. Al-Hasyr: 7).
Zakat yang dikelola baik dapat mengubah penerima zakat menjadi pemberi zakat, menutup celah kemiskinan dan kejahatan.
5. Menegaskan Harta Sebagai Amanah Allah
Dalam Islam, harta adalah titipan, bukan milik mutlak manusia. Korupsi berarti mengkhianati Allah sekaligus rakyat. Prinsip amanah ini adalah fondasi moral ekonomi langit.
Saatnya Kembali pada Solusi dari Sang Pencipta
“Masalah bangsa ini bukan cuma soal pengawasan, tapi soal iman,” tegas Kamyabi.
Memperbaiki sistem tanpa membenahi manusia hanya akan melahirkan maling-maling baru dengan wajah yang berbeda.
Sistem ekonomi langit hadir sebagai solusi komprehensif — menyatukan kekuatan spiritual (iman) dan mekanisme struktural (syariah) agar keadilan benar-benar terwujud.
Sudah saatnya bangsa ini berhenti mencari solusi dari teori manusia, dan mulai serius menerapkan solusi dari Sang Pencipta.
Wallahu a’lam.
Saeed Kamyabi
Inisiator Sistem Ekonomi Langit








