Zonaindonesiaworld.com, Tangerang –Bayangkan sebuah dunia di mana setiap transaksi keuangan Anda—dari membeli sayur di pasar hingga menabung untuk masa depan—tercatat rapi dalam satu “dompet digital” berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK). Ini adalah Payment ID, gebrakan Bank Indonesia (BI) yang akan diuji coba pada 17 Agustus 2025, sebagai bagian dari Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030. Tapi, apa hubungannya dengan Sistem Ekonomi Langit, konsep spiritual-ekonomi yang mengintegrasikan nilai-nilai ilahi dengan aktivitas keuangan? Apakah Payment ID akan membawa kita menuju “surga digital” yang adil dan transparan, atau justru menjadi alat pengawasan yang menakutkan? Mari kita jelajahi dengan penuh semangat—dan pilih sisi Anda!
Apa Itu Sistem Ekonomi Langit?
Sistem Ekonomi Langit, yang sering digaungkan dalam wacana keuangan berbasis nilai spiritual (terutama dalam konteks Islam di Indonesia), menekankan ekonomi yang berkeadilan, transparan, dan selaras dengan prinsip ilahi. Ini seperti pasar surgawi di mana setiap transaksi mencerminkan kejujuran, keadilan sosial, dan keberkahan. Tidak ada riba, tidak ada penipuan, dan setiap rupiah harus membawa manfaat bagi umat. Konsep ini sering dikaitkan dengan keuangan syariah, zakat, dan distribusi kekayaan yang merata, seperti bansos yang tepat sasaran atau investasi yang halal. (05/08/2025)
Payment ID, dengan kode uniknya (misalnya, “DDS 012 SAR”), dijanjikan BI sebagai alat untuk mewujudkan ekosistem keuangan digital yang transparan dan inklusif. Tapi, apakah ini selaras dengan Sistem Ekonomi Langit, atau justru bertentangan? Mari kita lihat dari dua kubu: pendukung yang melihatnya sebagai anugerah, dan penentang yang menganggapnya sebagai ancaman.
Pendukung: Payment ID adalah Jembatan Menuju Ekonomi Langit
Bagi yang pro, Payment ID adalah seperti malaikat pencatat transaksi yang membawa nilai-nilai surgawi ke dunia keuangan modern. Berikut alasan mereka bersorak gembira:
1. Bansos Seperti Sedekah Surgawi
Dalam Sistem Ekonomi Langit, distribusi kekayaan harus adil, seperti zakat yang sampai ke tangan fakir miskin. Payment ID memastikan bansos nontunai (uji coba dimulai 2025) tepat sasaran, tanpa korupsi atau duplikasi. Ini seperti menyalurkan sedekah dengan presisi ilahi, memastikan setiap rupiah bansos menjadi amal jariyah bagi negara.
2. Transparansi ala Kitab Amal
Ekonomi Langit menuntut kejujuran. Payment ID mencatat setiap transaksi secara real-time, dari belanja harian hingga investasi. Ini seperti “kitab amal keuangan” yang memungkinkan BI melacak aktivitas ilegal seperti judi online, pinjol haram, atau pencucian uang. Bukankah ini selaras dengan prinsip syariah yang menolak transaksi batil?
3. Inklusi Keuangan untuk Umat
Ekonomi Langit mengajarkan bahwa setiap orang berhak menikmati keberkahan ekonomi. Payment ID memudahkan akses ke pembiayaan, terutama bagi pedagang kecil atau pekerja informal. Dengan riwayat transaksi yang jelas, bank syariah atau fintech halal bisa menawarkan pembiayaan tanpa riba. Ini seperti membuka pintu rezeki bagi mereka yang terpinggirkan.
4. Pajak untuk Kesejahteraan Umat
Dalam ekonomi berbasis nilai ilahi, pajak adalah alat untuk membangun masyarakat yang adil. Payment ID memungkinkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memperkaya data wajib pajak, memastikan yang mampu membayar zakat atau pajak sesuai porsinya. Hasilnya? Dana untuk infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan umat, seperti visi Ekonomi Langit.
5. Keamanan Dijamin, Iman Terjaga
BI menjanjikan enkripsi canggih dan kepatuhan pada UU Perlindungan Data Pribadi 2022. Data Anda aman, hanya diakses dengan izin, seperti rahasia yang dijaga malaikat. Pendukung bilang, “Ini adalah sistem yang membawa keberkahan digital, selaras dengan nilai-nilai ilahi!”
Bagi pendukung, Payment ID adalah jembatan menuju Ekonomi Langit: transparan, adil, dan membawa keberkahan bagi umat. Mereka melihatnya sebagai alat modern yang mendukung visi Indonesia Emas 2045 yang selaras dengan nilai spiritual.
Penentang: Payment ID adalah Jerat Setan di Dunia Digital
Namun, bagi yang anti, Payment ID bukanlah anugerah, melainkan jerat setan yang mengancam kebebasan dan privasi umat. Dalam Sistem Ekonomi Langit, keadilan tidak boleh mengorbankan kebebasan individu. Berikut alasan mereka menentang keras:
1. Privasi Umat Direnggut
Ekonomi Langit menjunjung kebebasan dan privasi sebagai amanah Tuhan. Payment ID, dengan pemantauan setiap transaksi—dari beli roti hingga sedekah—terasa seperti pengawasan berlebihan. “Apa bedanya dengan mata setan yang mengintai setiap langkah kita?” tanya mereka. Jika data bocor, seperti kasus BPJS Kesehatan, privasi umat bisa jadi korban.
2. Risiko Penyalahgunaan Data
Data keuangan yang terpusat adalah harta karun bagi “iblis digital” seperti hacker atau oknum. Dalam Ekonomi Langit, penyalahgunaan amanah adalah dosa besar. Jika data Payment ID jatuh ke tangan pinjol ilegal atau pihak asing, ini bisa jadi bencana, seperti kisah kebocoran data Aadhaar di India. “Bagaimana kita percaya brankas digital BI tidak akan diretas?” ujar penentang.
3. Pengawasan ala Dajjal
Payment ID memungkinkan pemerintah tahu segalanya: berapa Anda sedekah, di mana Anda belanja, bahkan kebiasaan kecil seperti nongkrong di kafe. Penentang khawatir ini melanggar prinsip Ekonomi Langit yang menolak pengendalian berlebihan. “Ini bukan keadilan, ini pengawasan ala Dajjal yang ingin tahu semua rahasia umat!” seru mereka.
4. Umat Terpinggirkan oleh Teknologi
Ekonomi Langit mengajarkan inklusi, tapi Payment ID bergantung pada teknologi digital. Warga desa, lansia, atau mereka yang tidak melek teknologi bisa tersisih. “Bagaimana petani di pelosok bisa ikut sistem ini? Ini bukan ekonomi ilahi, tapi diskriminasi digital!” kata penentang.
5. Ketergantungan pada Sistem Rapuh
Jika sistem BI-Payment Info gagal atau diretas, transaksi macet, bansos terhambat, dan data umat berisiko disalahgunakan. Dalam Ekonomi Langit, ketergantungan pada sistem buatan manusia yang rentan adalah kesalahan besar. “Kita harus mengandalkan keadilan Tuhan, bukan teknologi yang bisa runtuh!” tegas mereka.
Penentang melihat Payment ID sebagai ancaman terhadap nilai-nilai Ekonomi Langit: kebebasan, privasi, dan keadilan sejati. Mereka khawatir ini adalah alat pengawasan yang menyimpang dari jalan ilahi.
Pilih Jalan Anda: Surga Digital atau Neraka Pengawasan?
Payment ID adalah persimpangan besar dalam perjalanan menuju Ekonomi Langit. Bagi pendukung, ini adalah anugerah teknologi yang membawa transparansi, keadilan, dan keberkahan, seperti pasar surgawi yang diimpikan. Bagi penentang, ini adalah jebakan digital yang mengorbankan privasi dan kebebasan umat, jauh dari nilai-nilai ilahi.
Apakah Payment ID akan menjadi jembatan menuju surga digital yang adil, atau jerat yang menyeret kita ke pengawasan abadi? Tulis pendapat Anda di kolom komentar! Apakah Anda melihat keberkahan atau ancaman dalam sistem ini? Mari kita dialog dengan semangat menuju kebenaran! Wallahu a’lam.
Penulis: Saeed Kamyabi
Inisiator Sistem Ekonomi Langit








