Zonaindonesiaworld.com, Tangerang – Setiap Agustus, kita menyaksikan pemandangan yang penuh semangat: latihan upacara pengibaran bendera Merah Putih. Dengan tekun, para petugas berlatih, mengatur langkah, mengencangkan tali, memastikan bendera naik sempurna ke puncak tiang. Tak jarang badan letih, keringat bercucuran, bahkan jalanan pun dikosongkan sejenak untuk memberi jalan bagi prosesi yang dianggap sakral ini. Semua pengorbanan itu dilakukan demi sehelai kain berwarna dua, simbol kehormatan bangsa. (12/08/2025)
Namun, di tengah gelora nasionalisme ini, seringkali muncul pertanyaan yang menusuk kalbu: “Di manakah semangat yang sama ketika adzan berkumandang memanggil untuk ‘mengibarkan’ amal sholat ke langit?”
Benarlah apa yang menjadi kegelisahan sebagian. Ada ironi yang tak bisa dipungkiri. Betapa mudahnya waktu-waktu sholat—terutama Dhuhur dan Ashar yang sering bertepatan dengan jam latihan atau bahkan upacara puncak—dilangkahi atau diringkas secara tergesa-gesa. Suara klakson mobil dinas atau teriakan komandan latihan seakan lebih didengar dan dipatuhi daripada seruan “Hayya ‘alash sholah” yang memanggil untuk menghadap Sang Pencipta. Jalanan dikosongkan untuk hormat pada bendera, namun ketika adzan menggema, tak selalu ada “penyediaan jalan” yang sama antusiasnya untuk segera menuju masjid atau tempat sholat.
Lupa pada Pesan Indonesia Raya?
Padahal, lagu kebangsaan kita sendiri, *Indonesia Raya* karya W.R. Supratman, telah mengingatkan dengan lantang: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” Pesan ini mendahulukan pembangunan jiwa, rohani, dan karakter sebelum kekuatan fisik atau simbol-simbol lahiriah. Semangat nasionalisme sejati seharusnya lahir dari jiwa yang mulia, yang tak hanya mencintai tanah air, tetapi juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana tercantum dalam sila pertama Pancasila, dasar negara kita.
Apakah semangat menggebu-gebu mengibarkan bendera namun abai terhadap kewajiban sholat mencerminkan jiwa yang telah “dibangun” sebagaimana dimaksud Supratman? Ataukah kita terjebak pada simbolisme lahiriah sementara ruhnya—yaitu ketakwaan dan pengabdian kepada Allah—terabaikan?
Dakwah: Mengingatkan dengan Hikmah
Fenomena ini bukanlah celaan mutlak pada semangat nasionalisme. Mengormati bendera adalah bagian dari mencintai tanah air, dan itu mulia. Namun, kecintaan pada tanah air (hubbul wathan) dalam perspektif Islam tidak boleh mengalahkan kecintaan dan ketaatan kepada Allah (hubbullah).
Di sinilah pentingnya dakwah yang bijak dan penuh hikmah. Dakwah bukan tentang menyalahkan, tetapi tentang mengingatkan dengan kasih sayang. Penting untuk menyadarkan bahwa:
1. Prioritas Iman: Kewajiban sholat adalah rukun Islam yang fundamental, batas waktunya jelas, dan meninggalkannya tanpa udzur syar’i adalah dosa. Semangat apapun, termasuk nasionalisme, tidak boleh menjadi alasan untuk melalaikannya.
2. Keseimbangan adalah Kunci: Bukan memilih antara cinta tanah air atau taat beragama. Keduanya bisa dan harus berjalan beriringan. Seorang muslim sejati adalah patriot yang taat. Latihan upacara bisa diatur agar tidak berbenturan dengan waktu sholat. Sholat berjamaah bisa dilakukan tepat waktu sebelum atau
setelah latihan intensif.
3. Makna Sejati Pengorbanan: Pengorbanan tenaga untuk bendera adalah baik, tetapi pengorbanan waktu untuk memenuhi panggilan Allah adalah bukti ketakwaan yang lebih tinggi nilainya.
4. Membangun Jiwa yang Takwa: Nasionalisme yang kuat justru lahir dari rakyat yang berkarakter mulia dan bertakwa. Ketaatan beribadah adalah fondasi utama membangun jiwa yang kuat dan bangsa yang bermartabat.
Penutup: Merajut Nasionalisme dan Ketakwaan
Marilah kita renungkan. Semangat membara untuk melihat Sang Saka berkibar lurus ke angkasa adalah cermin kecintaan kita pada Indonesia. Namun, semangat itu akan kehilangan makna terdalamnya jika mengabaikan panggilan untuk “berkiblat” kepada Allah SWT melalui sholat.
Mari jadikan Agustus ini bukan hanya bulan memuliakan bendera, tetapi juga bulan untuk menguatkan komitmen memuliakan perintah-perintah-Nya. Dengan mengatur jadwal latihan yang menghormati waktu sholat, dengan segera memenuhi panggilan adzan meski tengah bersiap-siap upacara, kita mewujudkan pesan Indonesia Raya secara utuh: membangun jiwa yang takwa sebagai landasan untuk membangun badan dan bangsa yang kuat.
Dakwah yang lembut dan teladan yang baik adalah kunci. Karena tujuan akhir kita bukan hanya bendera yang berkibar sempurna di tiang dunia, tetapi juga amal sholeh yang berkibar sempurna menuju langit keridhaan-Nya. Hanya dengan keseimbangan inilah kecintaan pada tanah air dan ketaatan pada Ilahi bisa bersatu padu, membentuk pribadi muslim dan warga negara Indonesia yang paripurna. Merdeka. Wallahu a’lam.
Saeed Kamyabi
BSD City








