Zonaindonesiaworld.com, Jakarta – Bencana banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya meninggalkan duka dan kerusakan infrastruktur—ia juga memberikan pukulan telak terhadap sendi-sendi perekonomian masyarakat. Ribuan hektar sawah dan perkebunan terendam, usaha mikro dan kecil hancur lebur, rantai pasok terputus, dan ribuan keluarga kehilangan mata pencaharian. Dalam kondisi seperti ini, pemulihan ekonomi dengan pendekatan konvensional—yang seringkali reaktif, tersegmentasi, dan materialistik—mungkin akan berjalan lambat dan meninggalkan banyak lubang yang tidak terjangkau. (19/12/2025)
Di sinilah Sistem Ekonomi Langit hadir sebagai solusi paradigmatik, bukan sekadar program teknis. Sistem ini menawarkan kerangka pemulihan yang integral, berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan, keadilan, gotong royong, dan kelestarian alam—nilai-nilai yang sejatinya sangat lekat dengan budaya masyarakat Aceh dan Minangkabau.
Apa itu Sistem Ekonomi Langit?
Sistem Ekonomi Langit adalah sistem ekonomi yang dirancang untuk menyelaraskan aktivitas perekonomian dengan hukum alam (sunnatullah) dan prinsip ketuhanan. Ekonomi tidak dilihat sebagai entitas yang terpisah dari spiritualitas, sosial, dan ekologi, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan. Filosofinya adalah “ekonomi untuk kehidupan yang bermartabat dan berkelanjutan”, dengan prinsip utama: Berpihak pada Yang Lemah, Menjaga Keseimbangan Alam, dan Mengedepankan Kejujuran serta Keadilan Distributif.
Mengapa Sistem Ini Cocok untuk Pemulihan Tiga Provinsi Ini?
1. Memulihkan dengan Nilai Lokal yang Kuat
Masyarakat Aceh dan Minang memiliki fondasi spiritual yang kuat dan tradisi gotong royong—seperti “meuseuraya” di Aceh atau “gotong royong” yang lazim di Minang. Sistem Ekonomi Langit bukan sesuatu yang asing; sebaliknya, ia menguatkan dan memodernisasi nilai-nilai luhur tersebut dalam kerangka ekonomi pascabencana. Pemulihan dilakukan dengan semangat kebersamaan, bukan hanya kompetisi.
2. Pendekatan Holistik dari Hulu ke Hilir
Sistem ini menekankan pemulihan ekosistem sebagai prioritas utama. Reboisasi, pembuatan biopori, dan pertanian regeneratif tidak dilihat sebagai biaya, melainkan investasi untuk mencegah bencana berulang dan menjamin keberlanjutan ekonomi pertanian dan perkebunan.
Selain itu, bantuan tidak hanya berupa barang konsumtif. Sistem ini menggerakkan dana kebangkitan komunitas—dari zakat, infaq, wakaf, CSR, dan anggaran pemerintah—yang dikelola secara transparan oleh majelis ulama, tua-tua adat, dan pakar. Dana ini digunakan untuk membentuk koperasi atau Baitul Mal komunitas yang membiayai kembali usaha mikro, menyediakan alat pertanian, dan membangun pusat pengolahan hasil pertanian atau ternak berbasis keluarga. Dengan demikian, ekonomi mengalir dari dalam komunitas itu sendiri.
3. Membangun Ketahanan Pangan Lokal
Daripada bergantung penuh pada bantuan pangan dari luar, Sistem Ekonomi Langit mendorong setiap desa atau kelurahan untuk segera memulihkan lahan produktifnya dengan pola diversifikasi tanaman. Lumbung pangan desa didirikan kembali dengan sistem bagi hasil yang adil, membangun kemandirian dan mengurangi kerentanan.
4. Menyatukan Segala Sumber Daya dan Pihak
Salah satu kelemahan pemulihan konvensional adalah tumpang tindih dan kurangnya koordinasi. Sistem Ekonomi Langit berfungsi sebagai platform kolaborasi yang menyatukan berbagai elemen:
– Kearifan Lokal & Agama: Ulama, teungku, ninik mamak, dan tuha peut sebagai penentu arah dan penjaga nilai.
– Sumber Dana: ZISWAF, CSR perusahaan, APBD/APBN, dan dana internasional dialirkan secara terpadu dan transparan melalui lembaga amanah komunitas.
– Keahlian: Akademisi, praktisi pertanian organik, ahli ekonomi syariah, dan NGO diintegrasikan untuk pendampingan teknis.
– Pemuda: Dilibatkan dalam logistik, teknologi, dan pengelolaan data untuk mendukung pemulihan.
5. Mencegah Eksploitasi dan Ketidakadilan
Pasca bencana, masyarakat rentan terhadap praktik rentenir, penimbunan, dan jual beli bantuan. Sistem ini menegakkan prinsip kejujuran dan anti-riba, mendorong transaksi berbasis bagi hasil (mudharabah/musyarakah) dan pinjaman tanpa bunga (qardhul hasan) untuk memutar kembali roda ekonomi. Pengawasan komunitas yang kuat menjadi kunci keberhasilan ini.
Implementasi Konkret Tahap Awal
Untuk memulai, langkah-langkah yang akan diambil adalah:
1. Membentuk Dewan Pemulihan Ekonomi (DPE) di tingkat provinsi dan kabupaten, yang terdiri dari perwakilan ulama, adat, pemerintah daerah, akademisi, dan relawan.
2. Melakukan Pendataan Partisipatif untuk mengidentifikasi korban, aset yang rusak, dan potensi lokal yang bisa segera dihidupkan.
3. Mengaktifkan Lumbung Dana Kebangkitan dengan mengonsolidasikan semua sumber daya keuangan yang ada.
4. Meluncurkan Program “Kebun Kebangkitan”: Membagikan paket benih cepat panen dan alat pertanian sederhana kepada keluarga, disertai pendampingan teknis.
5. Membangun Sentra Usaha Bersama untuk pengolahan hasil pertanian, kerajinan, dan perikanan yang melibatkan korban bencana sebagai pekerja dan pemilik.
6. Menjalankan Kampanye “Beli yang Lokal, Pulihkan Bersama” untuk menggerakkan pasar di dalam daerah sendiri.
Kesimpulan
Bencana adalah ujian, tetapi juga momentum untuk membangun kembali dengan lebih baik (build back better). Sistem Ekonomi Langit menawarkan jalan untuk tidak sekadar memulihkan ekonomi ke kondisi sebelum banjir, melainkan melompat ke model ekonomi yang lebih tangguh, adil, dan bermartabat. Ia memadukan akal dan hati, ilmu dan iman, serta efisiensi dan empati.
Untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar yang kaya akan nilai agama dan budaya, sistem ini adalah panggilan untuk kembali ke jati diri, bangkit bersama, dan menciptakan kemakmuran yang hakiki dan berkelanjutan pasca bencana.
Mari kita wujudkan pemulihan yang tidak hanya memulihkan bangunan—tetapi juga memulihkan ruh kebersamaan dan kemanusiaan kita.
Saeed Kamyabi
Inisiator Sistem Ekonomi Langit








