Zonaindonesiaworld.com, Bengkulu – Kedua merek makanan cepat saji ini mewakili pendekatan yang sangat berbeda dalam merespons dinamika pasar Indonesia. McDonald’s, sebagai raksasa global yang telah lama berkiprah di negeri ini, fokus pada keberlanjutan lingkungan melalui konsep gerai ramah lingkungan—dengan studi kasus gerai di Kelapa Gading. Sementara Almaz Fried Chicken, sebagai pemain baru yang muncul dengan latar belakang isu sosial-politik, membangun seluruh identitas merek di atas nilai-nilai spiritual dan semangat nasionalisme. (28/02/2026)
McDonald’s Indonesia: Mengukuhkan Citra Melalui Green Marketing
Melalui gerai pertamanya yang mengusung konsep ramah lingkungan di Kelapa Gading, McDonald’s menunjukkan strategi yang berfokus pada inovasi operasional dan desain untuk memperkuat citra merek modern dan peduli lingkungan.
Fokus utama mereka adalah pada keberlanjutan—alih-alih mengubah produk inti yang sudah dikenal luas, mereka mengubah “rumah” tempat produk tersebut disajikan. Gerai ini menggunakan solar panel untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi, eco-brick dari plastik daur ulang sebagai bahan konstruksi, serta memperluas lahan hijau di sekitar area untuk mendukung upaya Net Zero Emission. Semua ini menjadi bukti komitmen mereka terhadap isu lingkungan global yang tengah menjadi perhatian banyak kalangan.
Meskipun konsep dasarnya bersifat global dengan desain bangunan yang mengutamakan bentuk geometris futuris, McDonald’s juga menyisipkan unsur lokal dengan cermat. Motif batik Bunga Tanjung digunakan sebagai aksen dekoratif, menjadi cara halus untuk tetap terhubung dengan identitas budaya Indonesia tanpa mengurangi kesan internasional yang menjadi ciri khas merek.
Keberadaan mushola di dalam gerai juga disebutkan, meskipun penyebutannya lebih sebagai bagian dari kelengkapan standar fasilitas—bahkan material untuk signage toilet dan mushola juga menggunakan bahan yang ramah lingkungan—bukan sebagai jurus utama dalam kampanye pemasaran mereka.
Almaz Fried Chicken: Membangun Merek Berbasis Nilai yang Menggurita
Berbeda total dengan pendekatan McDonald’s, Almaz Fried Chicken tidak hanya menjual produk ayam goreng, tetapi lebih jauh menjual nilai-nilai yang kuat pada konsumennya. Strategi ini terbukti sangat efektif di tengah gejolak sentimen politik dan meningkatnya kesadaran akan nilai-nilai agama serta sosial di masyarakat Indonesia.
Merek ini lahir dan tumbuh pesat berkat momentum yang tepat—saat muncul seruan boikot terhadap beberapa merek makanan cepat saji yang dianggap terafiliasi dengan Israel. Meskipun narasi sebagai “pengganti KFC atau McDonald’s” bukan dibuat oleh mereka sendiri, Almaz dengan cerdas memanfaatkan kesempatan ini dan berhasil menjadikan dirinya sebagai alternatif pilihan bagi banyak konsumen.
Nilai spiritual dan sosial menjadi inti dari seluruh strategi mereka. Mereka berkomitmen menyisihkan 5% dari keuntungan untuk bantuan Palestina, yang menjadi daya tarik emosional kuat karena konsumen merasa tidak hanya makan, tetapi juga berkontribusi pada perbaikan kondisi sosial. Selain itu, program pembagian nasi box gratis saat omzet mencapai target tertentu menciptakan dampak langsung dan positif terhadap masyarakat sekitar gerai, memperkuat citra sebagai merek yang peduli. Di internal perusahaan sendiri, kewajiban salat bagi karyawan dan penyediaan fasilitas mushola yang luas bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian dari nilai merek yang hidup dan dijunjung tinggi.
Dalam hal positioning produk, Almaz menggunakan tagline “Ayam Goreng Saudi No. 1 di Indonesia” untuk menempati ceruk pasar yang unik. Mereka tidak bersaing sebagai penjual ayam krispi biasa, tetapi menyajikan diri sebagai “Albaik-nya Indonesia”—dengan menyertakan garlic sauce dan nasi kebuli yang tidak dimiliki oleh kompetitor utama. Langkah lain yang dianggap cerdas adalah merekrut 80-90% karyawan dari kalangan mantan pekerja KFC dan McDonald’s; ini tidak hanya mendapatkan tenaga kerja yang sudah ahli dalam bisnis makanan cepat saji, tetapi juga memperkuat narasi sebagai “rumah baru” bagi mereka yang terkena dampak boikot, sekaligus menarik simpati publik.
📊 Perbandingan dan Kesimpulan
McDonald’s mengedepankan nilai inti modern, global, dan berkelanjutan dengan pendekatan top-down yang berasal dari kebijakan korporasi untuk memperkuat citra merek. Jurus andalan mereka adalah desain bangunan yang futuris dan penggunaan material daur ulang yang menunjukkan inovasi dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sementara itu, Almaz Fried Chicken mengusung nilai inti religius, lokal, dan peduli sosial dengan pendekatan bottom-up yang fokus membangun komunitas berdasarkan nilai yang sama. Mereka mengandalkan narasi boikot, program donasi untuk Palestina, dan posisinya sebagai produk “Albaik versi Indonesia” untuk menarik konsumen.
Secara keseluruhan, strategi McDonald’s merupakan langkah jangka panjang untuk memperkuat citra merek di mata konsumen kelas menengah yang peduli pada isu lingkungan. Sebaliknya, strategi Almaz adalah respons yang sangat tepat terhadap sentimen pasar saat ini—mereka berhasil menangkap keinginan konsumen yang ingin melakukan boikot namun tetap menginginkan hidangan fried chicken yang lezat, lalu mengubahnya menjadi peluang bisnis dengan fondasi nilai spiritual yang kokoh.
Almaz membuktikan bahwa di pasar Indonesia, menjual “nilai kebaikan” bisa sama menariknya, bahkan lebih efektif, dibandingkan sekadar menjual produk atau menyajikan konsep bangunan yang canggih.
Penulis: Saeed Kamyabi
Inisiator Sistem Ekonomi Langit






