Urgensi Pengamalan Produk Halal & Toyyiban dalam Kehidupan di MT Forsima DKM Al Muhajirin

ZonaIndonesiaWorld.com- Dalam era globalisasi dan modernisasi saat ini, masyarakat dihadapkan pada berbagai pilihan produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, hingga barang konsumsi lainnya. Arus perdagangan bebas yang melintasi batas negara menjadikan beragam produk dari berbagai belahan dunia masuk dengan mudah ke tengah-tengah masyarakat. Kondisi ini menuntut umat Islam, khususnya, untuk semakin selektif dalam memastikan kehalalan (halalan) dan kebaikan (toyyibah) dari produk yang dikonsumsi maupun digunakan. Konsep halalan thoyyibah merupakan ajaran fundamental dalam Islam yang mengatur pola konsumsi dan gaya hidup umat muslim yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits sesuai falsafah hidup seorang mukmin sejati. Istilah ini sering disebut dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam surah Al-Baqarah ayat 168, yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ۝١٦٨

”Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” Ayat ini menjelaskan seruan kepada semua manusia bukan hanya muslim tetapi semua manusia untuk mengonsumsi makanan yang halal lagi baik. Kata halal merujuk pada segala sesuatu yang diperbolehkan menurut hukum syariat Islam, sementara thoyyib berarti baik, bersih, sehat, bergizi, serta tidak membahayakan tubuh maupun jiwa. Dengan demikian, halalan thoyyibah adalah prinsip yang tidak hanya menekankan aspek hukum agama, tetapi juga memperhatikan kualitas, keamanan, dan manfaat dari suatu produk.

Urgensi konsep ini semakin nyata di era modern, di mana masyarakat dihadapkan pada beragam produk dengan proses produksi yang kompleks dan lintas negara. Banyaknya kasus pencampuran bahan haram, penggunaan zat berbahaya, hingga gaya hidup instan menuntut umat Islam untuk lebih cermat dalam memilih produk yang sesuai dengan prinsip halalan thoyyibah. Hal ini menunjukkan bahwa syariat Islam hadir bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga melindungi kesehatan, akhlak, serta keberlangsungan hidup manusia.

Selain berdampak pada dimensi spiritual sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, pengamalan prinsip halalan thoyyibah juga berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Kesadaran akan produk halal dan thoyyib mampu mendorong lahirnya industri halal global yang berdaya saing tinggi, sekaligus memberikan jaminan kenyamanan, keamanan, dan keberkahan dalam kehidupan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap konsep halalan thoyyibah menjadi sangat penting untuk diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh individu, keluarga, maupun masyarakat luas.

Konsep halalan thayyiban yang termaktub dalam AlQur’an tidak hanya menekankan aspek hukum halal semata, tetapi juga mencakup dimensi kemaslahatan, kesehatan, kebersihan, dan keamanan produk bagi manusia. Dengan demikian, halal tidak hanya berorientasi pada kepatuhan syariat, tetapi thayyib memastikan bahwa produk tersebut benar-benar bermanfaat, higienis, bergizi, dan tidak membahayakan. Kedua aspek ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seorang muslim Al-Qur’an adalah cahaya dan penerangan bagi seluruh umat manusia. Ia bertindak sebagai “hudan“, yang menjadi pelita di tengah kegelapan dunia yang tanpa ilmu pengetahuan,

Urgensi pengamalan produk halal dan toyyiban tidak hanya berdampak pada dimensi spiritual, yakni sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga memberikan pengaruh positif terhadap kualitas hidup, kesehatan fisik, serta keberkahan dalam kehidupan seharihari. Di samping itu, pengamalan produk halal dan toyyiban juga memiliki kontribusi besar dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat, memperkuat industri halal, serta mendukung terciptanya ekosistem ekonomi yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan.

Dengan demikian, pemahaman serta implementasi nilai halal dan toyyiban menjadi kebutuhan mendesak dalam kehidupan modern. Hal ini bukan saja menjadi tanggung jawab individu muslim, tetapi juga lembaga, pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan gaya hidup halal dan toyyib demi kemaslahatan umat.

PEMBAHASAN 

URGENSI PENGAMALAN PRODUK HALAL & TOYYIBAN DALAM KEHIDUPAN: KOLABORASI ASSYAFI’IYAH HALAL CENTER, BPJPH, DAN MUI DALAM MEMPERKUAT EKOSISTEM SERTIFIKASI HALAL 

Pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menjadi garda terdepan dalam memastikan setiap produk yang beredar di Indonesia memiliki kepastian hukum kehalalan. Namun, pelaksanaan sertifikasi halal membutuhkan sinergi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dan pusat studi halal. Mewujudkan generasi penerus bangsa yang sehat dan bergizi sesuai halal dan thayyiba melalui sertifikasi halal di kalangan Masyarakat Indonesia sehingga membentuk generasi emas yang unggul dalam skala internasional.

Dalam hal ini, As-Syafi’iyah Halal Center (AHC) berperan sebagai mitra strategis yang aktif melatih dan menyiapkan Pendamping Proses Produk Halal (PPH). Kolaborasi AHC dengan BPJPH dan MUI menjadi bukti konkret bagaimana sinergi antara pemerintah, otoritas keagamaan, dan lembaga pendidikan mampu memperkuat ekosistem halal nasional. Dengan demikian, urgensi pengamalan produk halal dan thayyiban bukan hanya menyangkut kepentingan spiritual, tetapi juga kesehatan, keamanan, dan reputasi Indonesia sebagai pusat halal dunia.

B.1LEMBAGA PENGKAJIAN PANGAN, OBATOBATAN DAN KOMESTIK MAJELIS ULAMA INDONESIA (LPPOM-MUI) 

Peran LPPOM MUI pada tahun 2008:  Audit dan Verifikasi: LPPOM MUI bertugas melakukan pemeriksaan, audit, dan verifikasi terhadap produk untuk memastikan aspek kehalalannya. Penerbitan Pedoman: Pada tahun 2008, LPPOM MUI telah memiliki panduan sistem jaminan halal, seperti yang tercantum dalam “Panduan Umum Sistem Jaminan Halal LPPOM –MUI 2008”, untuk dijadikan pedoman bagi pelaku usaha. Konteks dan Evolusi Setelahnya: Perubahan Undang-Undang JPH: Setelah tahun 2008, terdapat perubahan signifikan dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), yang kemudian diperkuat oleh Perppu Cipta Kerja.

Peran BPJPH: Dengan adanya UU JPH dan Perppu Cipta Kerja, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menjadi lembaga yang melaksanakan penyelenggaraan jaminan produk halal di Indonesia.

Peran LPPOM MUI dalam bidang hukum saat Ini: LPPOM MUI tetap menjalankan fungsinya dalam proses sertifikasi halal, namun kini beroperasi di bawah payung regulasi UU JPH, termasuk pelaksanaan audit dan pelaporan hasil audit kepada Komisi Fatwa MUI.  Legitimasi: Dulu sertifikasi halal bersifat sukarela, namun saat ini menjadi wajib bagi produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di Indonesia.  Panduan Umum Sistem Jaminan Halal LPPOM –MUI 2008 SOP Pemeriksaan dan Penerimaan Bahan 1. Nama bahan, kode bahan, produsen, nama dan lokasi pabrik diperiksa kesesuaiannya dengan pencatatannya.

Berikut peran LPPOM MUI secara rinci: Pemeriksaan dan Pengkajian Produk: LPPOM MUI bertanggung jawab untuk meneliti, mengkaji, menganalisis, dan memutuskan apakah suatu produk pangan, obat-obatan, dan kosmetika aman dan sesuai dengan ketentuan syariat Islam.  Audit Teknis: Dalam jalur reguler, LPPOM MUI bertindak sebagai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) yang akan memeriksa bahan baku, proses produksi, dan rantai pasokan produk.  Rekomendasi Sertifikasi Halal: Setelah audit selesai dan produk dinilai memenuhi kriteria kehalalan, LPPOM MUI akan memberikan rekomendasi sertifikasi halal kepada BPJPH.  Peran dalam Ekosistem Halal: LPPOM MUI berperan sentral dalam ekosistem sertifikasi halal di Indonesia, memberikan jaminan kepada konsumen Muslim bahwa produk yang mereka konsumsi aman dan sesuai syariat

Adapun  beberapa  kriteria  bahan  yang  masuk  pada  kriteria  halal  atau  haram  menurut LPPOM MUI, 2008:

Minuman yang dikategorikan sebagai khamr seperti sesuatu yang memabukkan, najis, yang memiliki kandunganminimal 1% ethanol. Begitu pula, jenis minuman  yang  diklasifikasikan sebagai  khamr  namun  diproduksi  melalui  prosedur fermentasi  dengan kandungan kurang  dari  1%  ethanol,  tetap  dihukumi  haram  untuk diminum. Akan tetapi ethanol yang diproses dari industri bukan khamr hukumnya suci, sehingga diberbolehkan. Selain itu, komposisi bahan yang didapat dari industri khamr namun dicampurkanuntuk menghasilkan bahan baru, maka bahan yang tercipta adalah halal. Contoh flavor yang menggunakan nama dan profil sensori produk haram, tidak bisa  disertifikasikan  label halal  serta  tidak  boleh diminum sekalipun menggunakan komposisi  yang  halal. Jenis produk  microbial bisa halal  jika  komposisi alat  yang digunakantidak haram dan najis. Sedangkan industri yang mengolahi produk halal dan non-halal agarmemisahkan fasilitas produksinya agar tidak adakontaminasi silang.

Beberapa bahan yang sering menjadi titik kritis diantaranya berupa jenis daging yang dihasilkan dari Binatang halal  namun  akan  menjadi  tidak  halal  hukumnya apabila melalui proses penyembelihan yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Kemudian, bahan yang mengandung jenis hewani akan berstatus halal dan suci apabila berasal dari hewan halal  dan melalui  proses  penyembelihan  yang sesuai  dengan  syariat  Islam,  tidak terbentuk dari darah juga tidak tercampur dengan bahan jenis haram atau najis lainnya. Lalu, materi yang  mengandung  jenis tumbuhan pada asalnya  dihukumi halal,  namun apabila diolah menggunakan  bahan  tambahan  dan  penolong  yang  tidak  halal  maka materi tersebut pun dihukumi  menjadi  tidak  halal. Selanjutnya,  terkait  produk  atau bahan yang dihasilkan dari samping industri minuman beralkohol beserta turunannya akan  tetap dihukumi haram apabila cara  mendapatkannya hanya  melalui  pelepasan secara  fisik  dan  produk  masih  mengandung sifat  khamr. Namun  apabila materi tersebut  diformulasikandengan  proses  kimia sehingga dapat menciptakan senyawa  baru,  maka  senyawa  baru  yang  telah  mengalami proses kimiawi statusnya menjadi halal.

Apabila  dianalisis  dari  pemaparan di  atas  membuktikan bahwa  persyaratan  terkait produk  halal  yang  ditentukan  oleh  BPJPH  memiliki  keterkaitan  dan  korelasi  yang  cukup komprehensif  terhadap  Qs. al-Baqarah  ayat  168,  sebagaimana  yang  sudah  dijelaskan  lebih lanjut dalam beberapa kitab tafsir. Hal ini dapat dilihat dari beberapa persyaratan BPJPH yang harus dipenuhi oleh pemilik usaha agar bisa mendapatkan sertifikasi halal. Mulai dari pangan lokal, bahkan pangan impor pun telah menjadi minat konsumsi masyarakat. Namun, keragaman ini menimbulkan keraguan apakah pangan yang dikonsumsi telah memenuhi standar halal dan thayyib. Saat ini, pangan halal dan thayyib bukan hanya kewajiban dasar bagi konsumen untuk mengonsumsinya, tetapi telah menjadi kunci dasar bagi perkembangan industri pangan halal global, mengingat pangan halal dan thayyib tidak hanya diminati oleh konsumen Muslim, tetapi konsumen non-Muslim pun tertarik pada produk halal karena keamanannya terjamin. Di mana, jaminan halal ini tidak hanya bisa diperoleh melalui pemeriksaan bahan-bahan yang  digunakan  untuk  membuat  produknya  saja tetapi  juga  dari  proses  pembuatannya  yang harus menjamin kehalalannya. Meski  pemerintah  sudah  merumuskan  perlindunganhukum  dan sertifikasi kehalalan produk kepada kaum muslim, namun pada kenyataannya tingkat kesadaran masyarakat saat ini terhadap kehalalan produk masih rendah, baik dari konsumennya maupun pelaku usaha.

 

B.2. BADAN PENYELENGGARA JAMINAN PRODUK HALAL 

Menurut BPJPH, total PPH yang terdaftar adalah 114.745 orang yang tersebar di 34 provinsi. BPJPH Halal. BPJPH juga menyebutkan bahwa sampai tahun tertentu sudah ada 18.248 pendamping PPH yang tersertifikasi. Data kuota perekrutan PPH dari Kementerian Agama menunjukkan angka-kuota per provinsi untuk beberapa provinsi pada 2022, misalnya:

Jawa Barat: 3.600 orang Kompas

Jawa Tengah: 800 orang

Bali: 242 orang

DKI Jakarta: 318 orang

Ini dibuktikan dengan komoditas yang didistribusikan di lingkungan masyarakat tidak secara keseluruhan dapat menjaminkehalalannya  karena  masih  banyak didapati  adanya sertifikasi halal pada produk yang masih dipertanyakan legalitasnya. Hal ini dimungkinkan karena produsenyang tidak memiliki itikad baik dan curang terhadap legalitas kehalalan produknya. Salah satu kasus yang didapati adalah salah satu usaha bakso olahan yang mengandung daging sapi dan diolah dengan daging babi, atau olahan apa saja yang dicampur dengan  bahan  yang  sifatnya  haram. Begitu  pula,  masih terdapat berbagai bahan impor  yang didistribusikan di  masyarakat  dan tidak mememilki legalitas hukum serta jaminan kehalalan produk untukkalangan kaum muslim, namun biasanya produk impor ini memiliki daya tarik tinggi untukdiminati oleh masyarakat. Hal tersebut terjadi karena zaman yang terus berkembang juga sektor perdagangan yang semakin meluas. Salah satu yang tidak dapat dihindari adalah efek dari perdagangan bebas yang menyebabkan peningkatan arus peredaran berbagai jenis komuditasdi Indonesia, baik komuditas  ekspor maupun impor dimana produk  tersebut  tidak  selalu  memiliki dampak  positif  kepada  masyarakat  khususnya  umat muslim.

Meski  demikian,  adanya  BPJPH  sebagai  lembaga  hukum  yang  menetapkan  produk halal tentu lebih banyak memberikan manfaat. Karena konsep halal saat ini lebih dari sekedar nilai  agama,  tetapi  juga  meningkat  kepedulian  terhadap  kesehatan. Sebagaimana  pernyataan KH. Ma’ruf Amin yang menyatakan adanya makanan halal-haram bukan hanya persoalan bagi umat muslim seorang, Namun memiliki keterkaitan dengan masyarakat global pada umumnya, sebab hukum halal itu bukan sekedar label halal semata, tetapi juga termasuk yang hiegenis, bersih, sehat, dan bermanfaat. Oleh karena itu, kebermanfaatannya tidak  hanya  dirasakan  umat  muslim  tetapi  juga  bagi  non-muslim  karena  di  satu  sisi  dapat meyakinkan konsumen Muslim bahwa produk makanan tersebut diproduksi dan dipersiapkan relevan dengan  syariat  Islam. Di  sisi  lain,  konsumen  non-Muslim  juga  menyetujui  dengan respon positif dengan adanya sertifikasi makanan halal karena mereka sudah memahami bahwa produk makanan yang memiliki logo tersebut dipersiapkan dengan cara yang paling higienis dan bersih untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, ketentuan hukum terkait produk  halal cukup diterima  oleh seluruh kelompok baik  muslim  itu  sendiri  maupun  non-muslim karena memberikan banyak kemaslahatan. Bahkan, secara bertahap hal tersebut mulai menjadi gaya hidup. Misalnya, saat ini pemberian sertifikasi halal tidak saja diberikan pada produk makanan tetapi didapatkan oleh berbagai jenis produk lainnya, seperti kosmetik, barang-barang, dan lain sebagainya. Maka dibentuk P3H atau pendamping proses produk halal di Indonesia. Adapun data rekrutmen pendamping proses produk halal oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal sebagai berikut:

Berdasarkan  argumentasi  bahwa salah  satu prinsip  utama  dalam  ajaran  Islam  yang  menekankan  pentingnya  kehalalan  dan  kualitas  baik suatu  produk  konsumsi. Secara  kebahasaan  makna halalan  thayyiban adalah  segala sesuatu yang diperbolehkan juga terbebas dengan berbagai ketentuan yang menjadi larangan. Kedua, munculnya  ayat  tentang  perintah halalan  thayyiban ini  berkaitan  dengan  kisah  umat jahiliyah  terdahulu  yang  mengharamkan  sesuatu  yang  sebenarnya  dihalalkan  oleh  Islam.  Ketiga, Di  Indonesia,  konsep halalan  thayyiban terhadap makanan-minuman sudah diterapkan oleh lembaga pemerintah BPJPH, dan menjadi salah  satu  perhatian  penting  untuk  menjaga  keamanan  bagi  umat  muslim, adalah hamba Allah SWT yang bertugas berdakwah untuk memerintahkan kebaikan dan menjauhi larangan Allah sebagaimana tercantum dalam Surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ۝٦

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

 

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Manusia sebagai orang yang beriman atau orang yang beriman hendaknya senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas kehidupan pribadinya. Islam bukanlah agama yang hanya terdiri dari dogma, ibadah, dan upacara. Islam sesungguhnya adalah jalan hidup yang utuh, yang membimbing manusia sesuai dengan tuntunan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad. Islam adalah sistem dan aturan hidup yang mengandung nilai-nilai spiritual dan moral yang diajarkan oleh syariat Allah SW.

B.3 AS-SYAFI’IYAH HALAL CENTER 

Apa Itu As-Syafi’iyah Halal Center (AHC) As-Syafi’iyah Halal Center adalah lembaga yang berada di bawah Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA), yang dibentuk untuk memudahkan pelaku usaha, khususnya UMKM, dalam mendapatkan sertifikasi. AHC secara resmi diluncurkan/kedudukannya diresmikan oleh Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Haikal Hasan, pada 8 Januari 2025, di Graha Alawiyah, Kampus 2 UIA. Visi dan Misi / Tujuan Berdasarkan publikasi, AHC memiliki beberapa tujuan dan arah strategis:

Meningkatkan Jaminan Produk Halal AHC dibentuk untuk memperkuat jaminan kehalalan produk bagi umat Islam dengan memberikan pendampingan dan percepatan dalam proses sertifikasi halal.

Percepatan Sertifikasi Halal Nasional AHC mendukung target nasional dari BPJPH, misalnya target penerbitan sertifikat halal bagi 3 juta pelaku usaha pada tahun 2025. Untuk itu, mereka merancang langkah-langkah strategis seperti pembentukan dan pelatihan calon Pendamping Proses Produk Halal (P3H), yang disebut “Satria AHC”. Halalcenter.

Pusat Kajian dan Pengembangan Produk Halal AHC diarahkan tidak hanya sebagai lembaga administratif, tetapi juga sebagai pusat penelitian dan kajian halal yang memanfaatkan teknologi, inovasi, dan jaringan kerjasama.

Perluasan Pemahaman dan Literasi Halal Melalui program pelatihan, sosialisasi, dan edukasi kepada UMKM dan masyarakat luas mengenai pentingnya produk halal serta bagaimana proses sertifikasi halal. Di bawah ini pendamping proses produk halal (P3H) AHC.

Fungsi dan Peran Operasional Beberapa fungsi utama yang diemban oleh AHC:

Pendampingan Sertifikasi Halal Memberikan fasilitasi kepada pelaku usaha (terutama UMKM) yang belum memiliki sertifikasi halal, agar dapat memenuhi persyaratan dan proses sertifikasi yang ditetapkan oleh BPJPH.

Pembentukan Tenaga P3H / Satria Halal AHC Melatih dan merekrut calon pendamping di lapangan untuk membantu proses sertifikasi produk halal.

Tujuannya agar pelaku usaha mendapat pendampingan langsung dan proses sertifikasi dapat berjalan lebih cepat dan merata.

Kolaborasi dengan Pemerintah dan Institusi Lain Berkoordinasi dengan BPJPH dan institusi lainnya untuk menjalankan program strategis jaminan produk halal, serta menjadi bagian dari jaringan nasional dalam penyebaran standar halal. Menjadi Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) AHC diharapkan bisa berperan sebagai LPH, dengan dukungan regulasi dan kerjasama, agar memiliki kapasitas resmi dalam memastikan kehalalan produk.

Signifikansi dan Dampak Dengan jumlah pelaku usaha yang sangat besar di Indonesia, banyak yang belum tersertifikasi halal. AHC diharapkan dapat mempercepat proses ini, sehingga produk halal bisa lebih universal diakses oleh konsumen muslim. Adapun kriteria makanan halal dan thayyibah adalah:

Bukan berasal dari Binatang buas, bertaring dan berkuku tajam.

Jangan mengandung sesuatu yang memabukkan.

Tidak memakai nama yang menyerupai maksiat, pornografi, dan unsur setan.

Sayur-sayuran dan buah-buahan yang bergizi.

Dalam pengolahan makanan dan minuman menggunakan sarana dan prasarana yang bersih jauh dari Najis.

AHC juga diharapkan mendukung visi ekonomi nasional, seperti target pertumbuhan ekonomi dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produk halal dunia. Peran AHC dalam sosialisasi dan edukasi juga penting agar masyarakat dan pelaku usaha memahami tidak hanya kewajiban hukum, tetapi makna nilai halal-thayyib dalam kualitas, keamanan, dan aspek keberlanjutan produk.

As-Syafi’iyah Halal Center (AHC) merupakan salah satu Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) yang aktif berperan dalam mendukung program sertifikasi halal di Indonesia. Lembaga ini berdiri di bawah naungan Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Jakarta dan memiliki komitmen kuat untuk mendorong terwujudnya ekosistem halal nasional. Salah satu fokus utama AHC adalah mencetak Pendamping Proses Produk Halal (PPH) yang bertugas mendampingi para pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) dalam proses pengurusan sertifikasi halal. Upaya ini dilakukan melalui kegiatan pelatihan dan prakdiklat yang diselenggarakan secara bertahap. Pada Batch pertama, AHC telah melibatkan sekitar 1.000 peserta calon PPH. Selanjutnya, AHC menargetkan puluhan ribu calon pendamping lainnya agar dapat berperan aktif dalam memperluas jangkauan layanan sertifikasi halal.

Meskipun jumlah final pendamping aktif dari AHC belum dipublikasikan secara resmi, kontribusi lembaga ini sudah terlihat nyata melalui penyediaan wadah pelatihan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan terhadap program pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Dengan langkah ini, AHC diharapkan menjadi salah satu motor penggerak utama dalam mempercepat terwujudnya target Indonesia sebagai pusat halal dunia.

KESIMPULAN 

Makanan halal dan thayyib merupakan salah satu prinsip penting dalam ajaran Islam yang tidak hanya menekankan aspek kehalalan dari segi hukum syariat, tetapi juga aspek kebaikan, keamanan, dan kemanfaatan dari segi kesehatan, etika, serta lingkungan. Halal memastikan suatu produk sesuai dengan aturan syariah, sementara thayyib menekankan kualitas, kebersihan, keamanan konsumsi, dan keberkahan bagi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, pengamalan konsep halal dan thayyib bukan hanya menjaga umat Islam dari yang diharamkan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang sehat, beretika, dan berkelanjutan. Dengan demikian, penerapan prinsip ini tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga membawa maslahat luas bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan secara global. 

DAFTAR PUSTAKA 

Agus,  P. A. (2017). Kedudukan  Sertifikasi  Halal  Dalam  Sistem  Hukum  Nasional  Sebagai Upaya Perlindungan Konsumen Dalam Hukum Islam. Amwaluna: Jurnal Ekonomi Dan Keuangan Syariah, 1(1), 150–165. https://doi. org/10. 29313/amwaluna. v1i1. 2172Al-Qur’an.

A, Rahman, M. A. , & Hossain, M. T. Bin. (2020). Factors influencing Muslim and non-Muslim consumers’ consumption behavior: A case study on halal food. Journal of Foodservice  Business  Research, 23(4),  324–349. https://doi. org/10. 1080/15378020. 2020. 1768040.

Arsudin, M., Saad, S., Kurni, W., & Masykur, M. (2024). Konsep Halalan Thayyiban dalam Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Kesehatan Jiwa. adh Dhiya| Journal of the Quran and Tafseer1(2), 73-89.

Az-Zuhaili,  P. D. W. (2013). Tafsir  Al-Munir Aqidah, Syari’ah, Manhaj (Al-Baqarah-Ali-’Imran-An-Nisa’) Juz 3&4, Jilid 2. In Tafsir Al-Munir Aqidah, Syari’ah, Manhaj (Al-Baqarah-Ali ’Imran-An-Nisaa’) Juz 3&4.

Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). https://doi. org/10. 1111/j. 2042-7158. 1985. tb05098. xArsudin.

Baqi, M. F. A. (1981). Mu’jam Mufahras Li al Fadzil Qur’anil Karim. Dar al Fikr.

Bella-Salsa, A. , Betania Kartika, Jaiyeoba, H. B. , & Jamaludin, M. A. (2023), Halal Lifestyle Entrepreneurship:  Concept,  Practice,  Prospects  and  Challenges. Journal  of  Halal Science and Technology, 2(2), 19–25. https://doi. org/10. 59202/jhst. v2i2. 725.

Deuraseh, N. (2019). Halalan Tayyiban Products in Al-Qur ’ an : The Conceptual Framework in   Developing   Contemporary   Halal   Industrial   Products   for   Global Reach. 1st International Halal Conference & Exihibition 2019, 32, 315–325.

Fahrany, Sofia, Et Al. Learning Model Of Tahfidz-Based Islamic Religious Education In Taud Saqu Jember. Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam, 2024, 7.2: 300-312.

Fahrany, S. (2024). Falsafah Sumber Hukum Islam Pada Mukmin Sejati Perspektif Al-Qur’an Dan Al-Hadits. Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam7(1), 77-91.

Fahrany, S., Mamang, D., Sirojuddin, S., & Yasin, R. (2025). Filsafat Manusia Dalam Ilmu Pengetahuan Syariah Di Lingkungan Sosial Keagamaan Indonesia. SpektraJurnal Ilmu-ilmu Sosial7(1), 134-153.

https://khazanah.republika.co.id/berita/sprkqy483/kepala-bpjph-resmikan-assyafiiyah-halal-center,8 Januari 2025.

https://halalcenter.uia.ac.id/, As-Syafi’iyah Halal Center.

https://sabili.id/universitas-islam-as-syafiiyah-resmi-dirikan-halal-center/, 8 Januari 2025.

Ina, A. A. T., Luruk, M. Y., & Keban, A. (2016). Analisis Nilai Tambah Daging Babi Segar Menjadi Se’I Babi Siap Saji (Studi Kasus Usaha Agroindustri Se’I Babi di Baun). Jurnal Nukleus Peternakan, 3(2), 128-135.

  1. P.M. (2013). Makanan Dan Minuman Dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains. In Journal of Pharmacy and Pharmacology(1st ed. , Vol. 37, Issue 9).

LPPOM -MUI, https://halalmui.org/lppom-mui-sebagai-lembaga-pemeriksa-halal-inilah-peran-lengkap-stakeholder-halal-di-indonesia/

  1. ,Saad, S. , Kurni, W. , & Masykur. (2024). Konsep halalan thayyiban dalam al-qur’an dan relevansinya dengan kesehatan jiwa 1. Adh Dhiya | Journal of Qur’an and Tafsir, 1(2), 73–89.

Sari, A. N. (2024). Reinterpretasi Konsep Halalan Thayyiban dalam QS Al-Baqarah Ayat 168: Analisis Kontekstual Abdullah Saeed terhadap Sertifikasi Halal BPJPH. Ikhtisar: Jurnal Pengetahuan Islam, 4(2), 471-486.

Tamimah, T., Herianingrum, S., Ratih, I. S., Rofiâ, K., & Kulsum, U. (2018). HALALAN THAYYIBAN: THE KEY OF SUCCESSGUL HALAL FOOD INDUSTRY DEVELOPMENT. UlumunaJurnal Studi Keislaman4(2), 171-186.

Yasin, H., Hadi, A., Mahfuz, M., Soraya, S., & Fahrany, S. (2024). Exploring the Principles of Food Sustainability from the Qur’an: The Role of Islamic Education in Shaping a Sustainable Generation. Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme6(3), 460-478.

  • Related Posts

    Literasi dan Kesalehan Digital pada Pembinaan Karakter Islam Mahmudah di Ilalang School

    ZonaIndonesiaWorld.com-PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH PENDAHULUAN  PROFIL UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH  Narasi Profil Universitas Islam As-Syafi’iyah  Universitas Islam As-syafi’iyah merupakan salah satu perguruan tinggi Islam yang berkomitmen mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat dalam penyelenggaraan…

    Edukasi Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Menurut Agama Islam di Masjid Al Muhajirin Tarumajaya Bekasi

    ZonaIndonesiaWorld.com-Bekasi- EDUKASI BAHAYA PENYALAHGUNAAN NARKOBA MENURUT AGAMA ISLAM DI MASJID RAYA AL-MUHAJIRIN KECAMATAN TARUMAJAYA Sofia Fahrany Damrah Mamang sofia.fai@uia.ac.id damrahmamang.fh@uia.ac.id Universitas Islam As-Syafi’iyah Universitas Islam As-Syafi’iyah Haura Husniyah Hafizhah Haniyah…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *