ZonaIndonesiaWorld.com-Kecintaan Nabi Musa kepada keindahan dan keagungan Allah SWT dibuktikan melalui gelar utamanya sebagai Kalimullah (orang yang dapat berbicara langsung dengan Allah). Kerinduannya memuncak di Bukit Sinai, di mana ia memohon untuk melihat Zat-Nya, mencerminkan hasrat terdalam seorang hamba akan kesempurnaan Ilahi.
Dalam khazanah spiritual dan tasawuf Islam, kerinduan serta kecintaan Nabi Musa kepada Allah SWT tercermin kuat dalam beberapa momen sakral dan hikmah berikut:
Keinginan Melihat Allah di Bukit Sinai: Karena begitu sering dan nikmatnya mendengar Kalamullah, kecintaan Nabi Musa memuncak hingga ia memohon untuk bisa melihat Allah secara langsung. Allah berfirman bahwa ia tidak akan sanggup, namun Dia menampakkan keindahan dan keagungan-Nya pada sebuah gunung hingga gunung tersebut hancur dan Musa pingsan
Kisah Nabi Musa yang ingin melihat wujud Allah SWT diabadikan dalam Al-Qur’an. Peristiwa ini dijelaskan secara rinci dalam Surah Al-A’raf ayat 143.
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ
Dan ketika Musa datang untuk (munajat pada) waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.’ (Allah) berfirman, ‘Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.’ Ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman
Dialog Gembala Cinta”: Dalam sebuah riwayat tasawuf, dikisahkan Nabi Musa pernah berdialog dengan Allah mengenai seekor anak kambing yang lepas dari kawanannya. Ia lelah mengejar namun akhirnya merangkul dan menciumnya dengan penuh kasih. Allah mengajarkan Musa bahwa cinta dan kasih sayang Ilahi kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada rasa cinta Musa kepada hewan gembalaannya tersebut
Kecintaan Lewat Sedekah dan Kemanusiaan: Dalam salah satu dialognya, Nabi Musa bertanya kepada Allah mengenai ibadah apa yang paling Allah senangi. Allah menjawab bahwa Dia sangat mencintai hamba-Nya yang bersedekah dan membahagiakan orang yang sedang kesusahan, di mana Allah SWT sendiri hadir di samping hamba tersebut
Kisah dan dialog ini mengajarkan bahwa hakikat mencintai keindahan Allah adalah dengan tunduk pada perintah-Nya, menebar kasih sayang kepada sesama makhluk, dan senantiasa rindu bermunajat kepada-Nya.
والله اعلم
