ZonaIndonesiaWorld.com-Jakarta-Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ormas Islam dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Komisi Ukhuwah, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Senin-Selasa, 29-30 Juni 2026, di Jalan MH Thamrin, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Acara dua hari menghasilkan Deklarasi Nasional berisi sepuluh poin strategis sebagai panduan gerak umat Islam Indonesia ke depan.
Penutupan acara ditandai dengan pembacaan deklarasi oleh H. Syamsul Komar, didampingi Ketua Panitia H. Agus Sudono dan Prof. Chairon dari Komisi Ukhuwah MUI. Dengan mengharap ridha Allah SWT, para peserta menyepakati komitmen bersama untuk memperkuat persatuan umat dan bangsa.
Sepuluh Poin Deklarasi: Fondasi Persatuan dan Perdamaian
Deklarasi tersebut menegaskan bahwa Ukhuwah Islamiyah harus menjadi fondasi utama persatuan umat, sekaligus diperkuat dengan Ukhuwah Wathaniyah melalui komitmen kebangsaan terhadap NKRI. Lebih jauh, umat Islam didorong mengembangkan Ukhuwah Insaniyah sebagai kontribusi nyata bagi perdamaian dunia.
Para tokoh juga sepakat menolak segala bentuk fitnah, hoaks, provokasi, ujaran kebencian, serta upaya pemecah belah umat. Sebagai gantinya, sinergi nyata antar-ormas Islam dalam bidang dakwah, tarbiyah, ekonomi, dan sosial harus terus digalakkan. Komisi Ukhuwah MUI ditegaskan perannya sebagai perekat umat di seluruh Indonesia, dengan mekanisme pencegahan konflik berbasis musyawarah dan dialog.
Selain itu, deklarasi juga menyerukan solidaritas terhadap isu kemanusiaan global, pembangunan narasi Islam yang menyejukkan, inklusif, dan berorientasi pada maslahat, serta keberlanjutan silaturahmi antar-tokoh dan ormas. “Semoga langkah ini dapat menyatukan kaum syarikat Islam Indonesia,” pungkas H. Syamsul Komar.
Rekomendasi Strategis dan Program Kerja Jangka Panjang
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Chairon dari Komisi Ukhuwah MUI memaparkan rekomendasi strategis periode 2025–2030. Fokus utamanya meliputi penguatan kelembagaan MUI, komunikasi rutin dengan daerah, penyusunan program silaturahmi tahunan, dialog lintas kebangsaan, hingga pembentukan sekolah wasathiyah. Beliau juga menekankan pentingnya deteksi dini konflik, basis data isu strategis daerah, literasi digital, kampanye anti-hoaks, serta kolaborasi antar-7 ormas besar.
Sementara itu, H. Syamsul Komar selaku Ketua Bidang Ukhuwah KAHMI menjabarkan visi pelayanan umat dan kemitraan dengan pemerintah. Rencana kerja hingga 2030 mencakup forum nasional ormas Islam, strategi mediasi cepat untuk konflik internal atau sengketa masjid, serta penyusunan materi ceramah dan khutbah yang moderat.
Program prioritas lainnya meliputi sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah, penguatan manhaj di pesantren dan lembaga pendidikan, penegakan etika bagi ulama dan dai, serta advokasi bagi kelompok marginal yang mengalami diskriminasi atau alienasi. KAHMI juga berencana menerbitkan “Kitab Indeks Umat” pada akhir tahun sebagai barometer kesehatan sosial keagamaan.
Dengan sebelas bidang kerja yang komprehensif, Silatnas 2026 tidak hanya menjadi seremonial, melainkan tonggak baru bagi ormas Islam dan MUI dalam menjawab tantangan kontemporer, mulai dari polarisasi politik, ideologi, hingga isu-isu global, demi terciptanya umat yang bersatu, moderat, dan berkontribusi bagi peradaban, ucap Mahdi
